LombokPost – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB memutuskan untuk tetap melanjutkan proyek jalan provinsi long segment Lunyuk-Lenangguar, Kabupaten Sumbawa.
Seperti diketahui, proyek senilai Rp 19 miliar itu mengalami keterlambatan konstruksi di tahun anggaran 2025 dengan progres terakhir mencapai 65 persen.
"Pekerjaan tetap dilanjutkan sampai selesai," kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan dan Jembatan Wilayah Pulau Sumbawa Miftahuddin Anshary, Rabu (7/1).
Disampaikan, kontraktor diberikan adendum hingga 50 hari kerja yang dihitung sejak 1 Januari lalu.
Pemberian tambahan waktu pekerjaan itu diputuskan dalam rapat evaluasi di kantor Dinas PUPR NTB pada 31 Desember 2025 lalu.
Saat itu hadir pihak terkait. Mulai dari Kepala Dinas PUPR NTB yang saat itu masih dijabat Sadimin. Hadir juga Inspektorat NTB, Biro Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) NTB serta Tim Pendamping Proyek Strategis (TPPS) Kejati NTB. "Diberi tambahan waktu sampai 50 hari ke depan," ujar Miftahuddin.
Menurutnya, pemberian adendum itu diputuskan atas pertimbangan yang sangat rasional. Kondisi ini terjadi karena faktor force majeure atau kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk bekerja maksimal.
Dikatakan, faktur cuaca dengan kondisi hujan terus menerus terjadi setiap hari di lokasi proyek yang berada di kawasan hutan itu.
Kondisi hujan itu menimbulkan banjir dan tanah longsor di lokasi proyek. Kondisi ini sangat menghambat pelaksanaan proyek.
"Yang mustinya kita bisa full time kerja, tapi tersita kadang-kadang hanya bisa kerja beberapa jam sehari," ujar Miftahuddin
Selain itu, keterlambatan waktu pekerjaan juga menjadi alasan di balik permintaan adendum itu. Dikatakan, proyek baru mulai pekerjaan fisik Oktober lalu.
Sehingga praktis pekerjaan fisik hanya 100 hari jika dihitung sampai Desember ini. Ketersediaan waktu itu tidak memungkinkan untuk menuntaskan pekerjaan dengan skala besar seperti pekerjaan long segment Lunyuk-Lenangguar.
"Padahal biasanya kami bekerja minimal 180 hari. Tapi saat ini hanya 100 hari kerja karena banyak revisi saat perencanaan," pungkas Miftahuddin.
Project Control PT Amar Jaya Pratama Group (AJPG) Mahendra Pratama Putra mengaku sangat bersyukur karena pihaknya diberikan kesempatan untuk menuntaskan proyek long segment Lenangguar-Lunyuk. Ia optimistis pekerjaan bisa tuntas hingga awal Februari nanti.
"Alhamdulillah. Kami diberi adendum sehingga tetap dilanjutkan sampai tuntas," ujar Mahendra.
Saat ini, ujar dia, pihaknya terus mengebut pekerjaan. Para pekerja tidak hanya bekerja pada siang hari, tapi juga mengoptimalkan waktu sampai malam hari.
"Jadi kami bekerja siang dan malam. Kami bersyukur beberapa hari ini cuaca cukup bagus. Kondisi ini harus dimaksimalkan," ucapnya.
Disampaikan, progres pekerjaan fisik terus meningkat. Hingga kemarin progresnya sudah mencapai 72 persen. Selain pemasangan bore pile untuk mencegah longsor di atas bukit, pekerja juga sudah mulai melakukan pengaspalan jalan.
Pihaknya optimistis proyek bisa tuntas sampai batas waktu adendum Februari. "Kalau tidak ada hujan kami bekerja lembur sampai tengah malam," pungkasnya.
Anggota DPRD NTB asal Sumbawa Abdul Rahim mendukung adendum proyek jalan provinsi long segment Lunyuk-Lenangguar. Tujuannya agar infrastruktur itu bisa tuntas dan bisa segara dimanfaatkan oleh masyarakat.
"Ini demi kepentingan masyarakat banyak, sehingga saya setuju dan mendukung adendum ini," kata Abdul Rahim.
Ditegaskan, penuntasan proyek infrastruktur Lunyuk-Lenangguar merupakan sesuatu yang sangat diharapkan oleh masyarakat Sumbawa.
Ini untuk mendukung kegiatan perekonomian warga. Di antaranya bisa memudahkan pengangkutan dan distribusi hasil panen petani. Ruas Lunyuk-Lenangguar juga menjadi poros vital yang menjadi urat nadi perekonomian wilayah selatan Kabupaten Sumbawa.
"Ini yang sangat diidam-idamkan masyarakat. Makanya harus diperjuangkan agar bisa tuntas sampai selesai," ujar Bram, sapaan karib Abdul Rahim.
Menurutnya, adendum masih wajar dilakukan. Mengingat kondisi force majeure yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem di lokasi proyek.
Kondisi hujan dan longsor dari atas bukit menyulitkan pekerjaan. Meski meski, adendum yang diajukan kontraktor harus disertai dengan komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas proyek.
"Jangan sampai dikerjakan asal-alasan. Kualitas harus diutamakan," pungkas Anggota Komisi IV DPRD NTB itu.
Editor : Jelo Sangaji