LombokPost – PT Gerbang NTB Emas (GNE) akhirnya menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Rabu (7/1).
Proses ini menandai tuntasnya kewajiban korporasi yang tertunda karena diblokirnya Administrasi Hukum Umum (AHU) oleh Direktoral Jenderal AHU Kementerian Hukum RI sejak 2023.
Selanjutnya, Komisi III DPRD NTB yang membidangi keuangan dan perbankan siap menunggu aksi korporasi ke depan.
"Tentu setelah RUPS ini kita menunggu progres kinerja PT GNE pasca normalisasi," kata Ketua Komisi III DPRD NTB Sambirang Ahmadi.
Ia berharap BUMD itu segera memiliki direksi definitif bukan lagi dijabat pelaksana tugas (Plt).
Diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, perusahaan daerah yang memproduksi beton itu sudah memiliki pengurus baru. Ini penting agar korporasi bisa bisa bekerja dengan maksimal.
"Sehingga manajemen yang baru nanti betul-betul bisa membawa GNE jauh lebih baik," ujar Sambirang.
Ia berharap penyegaran maupun manajemen direksi periode 2026-2031 nanti akan membuat PT GNE semakin kompetitif dan produktif.
Dan bisa lebih terasa dampaknya bukan hanya dalam menghasilkan dividen, tapi bisa menguatkan perekonomian masyarakat.
"BUMD kita tidak hanya mengharapkan menyetor dividen banyak, tapi juga bagaimana bisa berkontribusi aktif di dalam menggerakkan roda perekonomian di NTB," papar Sambirang.
Terkait sosok direksi yang baru, Sambirang mendukung agar mekanisme rekrutmen berbasis meritokrasi. Karena itu sesuai dengan tagline dan semangat kinerja Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.
Sehingga DPRD berharap, mereka yang menduduki kursi direksi dan komisaris adalah figur yang betul-betul memiliki kapasitas dan pengalaman yang mumpuni dalam pengelolaan BUMD.
"Bukan orang yang dipilih berdasarkan pertimbangan kedekatan. Tapi betul-betul basisnya pada kemampuan dan profesionalitas. Ini sesuai dengan jargon meritokrasi Pak Gubernur," tegas Sambirang.
Lebih jauh ia menekankan PT GNE untuk tidak asal melakukan ekspansi bisnis. BUMD itu harus fokus menggeluti produksi beton sebagai core bisnis.
"Stop lakukan diversifikasi. Usaha yang tidak dikalkulasi dengan cermat hanya akan membuat rugi perusahaan," imbuhnya.
Berdasarkan hasil analisis, usaha produksi material konstruksi oleh PT GNE masih sangat menjanjikan. Selama setahun terakhir ini, BUMD itu hidup dari bisnis beton.
Mulai dari biaya operasional sehari-hari maupun urusan menggaji karyawan. Memang dilakukan langkah penghematan di sana sini untuk menekan biaya.
"Jangan asal melakukan ekspansi bisnis. Harus dihitung betul bagaimana prospek ke depan," kata Anggota Komisi III DPRD Muhammad Aminurlah.
Editor : Kimda Farida