LombokPost – Curah hujan tinggi beberapa hari lalu menyebabkan banjir besar di wilayah Lombok Selatan.
Banjir menerjang sejumlah desa di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar) dan Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah (Loteng), pada Selasa-Rabu lalu (13-14/1).
Selain merendam rumah warga dan merusak infrastruktur, banjir juga merenggut korban jiwa di Dusun Sauh, Desa Persiapan Blongas, Sekotong.
Kondisi ini menjadi sorotan wakil rakyat. Anggota DPRD NTB yang juga menjabat Presidium Nasional Kaukus Parlemen Hijau Daerah (KPHD) Akhdiansyah menilai banjir yang terjadi bukan semata mata karena cuaca ekstrem. Tapi diduga juga dipicu oleh kondisi lingkungan sekitar.
"Bukan rahasia lagi kalau hutan di sana sudah banyak yang yang beralih fungsi. Akibatnya deforestasi karena pohon-pohon ditebang," kata Akhdiansyah, Kamis (15/1).
Ia menyoroti kondisi bukit di kawasan Lombok Selatan yang gundul karena mengalami pengerukan.
Itu terlihat di sekitar Kuta Mandalika dan wilayah Sekotong. Di daerah itu banyak bukit dikepras. Pohon-pohon ditebang. Salah satunya untuk proyek pembangunan vila serta hotel.
"Boleh saja ini untuk pengembangan pariwisata. Tapi juga harus melihat dampak lingkungannya," ujar Akhdiansyah.
Ke depan, ia meminta pemerintah daerah (Pemda) baik Pemprov NTB maupun pemerintah kabupaten/kota memperketat pengelolaan lingkungan, termasuk mewajibkan penanaman pohon untuk setiap pemberian izin.
"Ini penting untuk mengganti setiap pohon yang ditebang untuk pembangunan," tegas anggota Fraksi PKB DPRD NTB itu.
Wakil Wakil Ketua DPRD NTB Lalu Wirajaya sangat prihatin dengan banjir yang menerjang Lombok Selatan.
Dikatakan, penyebab banjir di Loteng dan Lobar itu cukup beragam. Selain curah hujan juga karena faktor drainase yang tidak baik. Selain itu juga terjadi sedimentasi di sejumlah sungai. "Karena pendangkalan sungai ini menyebabkan air meluap," ujar Wirajaya.
Ia juga menyoroti kerusakan hutan di beberapa titik. Khususnya di kawasan sekitar pariwisata yang ada di wilayah Mandalika dan Sekotong.
Ia menghimbau Pemda untuk memperketat pemberian izin pembangunan. Terkait dugaan banjir karena derasnya laju deforestasi, Wirajaya meminta pendapat untuk selektif memberikan izin pembangunan.
"Saya kira itu harus (memperketat izin, Red). Ini harus dilakukan dengan mengutamakan kelestarian lingkungan di sekitarnya," paparnya.
Untuk penanganan jangka pendek, ia meminta pihak turun tangan. Dengan memberikan bantuan kepada masyarakat yang menjadi korban.
Terutama para OPD terkait. Seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial (Dinsos), hingga Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB.
"Kita bersyukur, Pak Gubernur (Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Red) langsung turun ke lokasi banjir hari ini. Saya kira penanganan segera harus dilakukan," imbuh Wirajaya.
Seperti diketahui, banjir cukup besar melanda Lobar dan Loteng bagian selatan. Wilayah Lobar yang terdampak adalah Kecamatan Sekotong.
Di sana ada tiga desa terdampak dengan ratusan rumah warga terendam banjir. Yaitu Desa Persiapan Pengantap, Desa Persiapan Blongas dan Desa Sekotong Tengah.
Sedangkan di Loteng banjir melanda dua desa di Kecamatan Praya Barat Daya. Yaitu Desa Kabul dan Desa Motong Ajan. Air bah juga merendam dan merusak sejumlah infrastruktur jalan.
Editor : Redaksi Lombok Post