Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Baliho Ramadan Rachmat Hidayat–Selly Andayani Jadi Sorotan, Pengamat Sebut Pesan Keberagaman di Ruang Publik NTB

Rury Anjas Andita • Minggu, 22 Februari 2026 | 19:57 WIB

Baliho Ramadan Rachmat Hidayat dan Selly Andayani di NTB disorot. Pengamat nilai kuatkan pesan keberagaman dan komunikasi politik.
Baliho Ramadan Rachmat Hidayat dan Selly Andayani di NTB disorot. Pengamat nilai kuatkan pesan keberagaman dan komunikasi politik.

LombokPost – Baliho Ramadan Rachmat Hidayat dan Selly Andayani menghiasi sejumlah titik strategis di Kota Mataram dan wilayah NTB. Kehadiran baliho Ramadan Rachmat Hidayat–Selly Andayani itu menjadi sorotan publik karena dinilai membawa pesan keberagaman dan keteduhan di ruang publik NTB yang majemuk.

Di ruang sosial NTB yang religius sekaligus plural, baliho Ramadan Rachmat Hidayat dan Selly Andayani tidak sekadar dibaca sebagai ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Publik melihatnya sebagai bagian dari komunikasi nilai yang selama ini konsisten dibangun Rachmat Hidayat.

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Mataram Dr. Agus, M.Si, menilai kemunculan baliho Ramadan Rachmat Hidayat dan Selly Andayani bukanlah kebetulan. Ia menyebutnya sebagai medium komunikasi politik yang sarat makna sosial.

“Di Indonesia, lebih-lebih di NTB, Ramadan bukan lagi sekadar ibadah, tapi peristiwa sosial. Bahasa seperti ini mudah diterima masyarakat,” ujar Agus di Mataram Minggu (22/2).

Menurut Agus, dalam konteks sosio-kultural NTB yang religius, ucapan Ramadan merupakan bentuk komunikasi yang relevan dan mudah diterima lintas kelompok.“Ini keteduhan di ruang publik,” katanya.

Dibaca sebagai Pesan Keberagaman dan Pluralisme

Agus mengaitkan pola komunikasi dalam baliho Ramadan Rachmat Hidayat dan Selly Andayani dengan tradisi ideologis PDI Perjuangan yang lekat dengan ajaran Bung Karno. Dalam pandangan Soekarno, seorang pemimpin harus memahami jiwa masyarakat yang dipimpinnya, bukan memaksakan simbol yang asing di ruang sosial.

Ia menilai Rachmat Hidayat sebagai figur nasionalis yang mempraktikkan pluralisme secara konsisten. Kehadirannya dalam momentum Ramadan dinilai sejalan dengan sikapnya yang juga aktif menyampaikan ucapan dan kehadiran dalam perayaan hari besar agama lain di NTB.

“Semua etnis dan semua agama ada di NTB. Saya melihat Pak Rachmat sudah berada di tengah-tengah itu,” ujar Agus.

Dari perspektif komunikasi politik, Agus menegaskan tidak ada tindakan politik yang bebas dari pesan, termasuk baliho Ramadan Rachmat Hidayat dan Selly Andayani.

“Publik pasti akan menafsirkan. Dalam politik, memang tidak ada perilaku yang tanpa pesan,” katanya.

Menurutnya, tafsir publik yang membaca baliho tersebut sebagai upaya membangun citra kepemimpinan religius, moderat, dan inklusif merupakan hal yang wajar.

Selly Andayani dan Tafsir Branding Politik

Kehadiran Hj. Putu Selly Andayani dalam baliho Ramadan itu juga ikut menjadi perhatian. Agus menilai hal itu tidak lepas dari posisi Selly sebagai figur publik yang pernah maju sebagai kandidat Wali Kota Mataram pada Pilkada 2020.

“Meski berasal dari kalangan birokrat, Bu Selly juga tokoh politik. Jadi wajar jika publik menafsirkan ada proses branding,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan dalam tradisi partai kader seperti PDIP, pengenalan figur di ruang publik merupakan bagian dari strategi jangka panjang. Konsistensi kehadiran dinilai penting dalam membangun komunikasi politik yang berkelanjutan.

“Partai politik tidak bisa hanya muncul menjelang pemilu. Konsistensi kehadiran justru menjadi kunci. Pemilu 2029 tidak datang tiba-tiba,” katanya.

Rachmat: Ini Pesan Kemanusiaan dan Kebersamaan

Menanggapi sorotan publik terhadap baliho Ramadan itu, Rachmat Hidayat menegaskan bahwa pesan tersebut murni bentuk penghormatan terhadap nilai sosial dan keagamaan masyarakat NTB.

“Ramadan mengajarkan kesabaran, empati, dan kebersamaan. Nilai-nilai itu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat NTB. Karena itu, saya ingin menyampaikan pesan yang meneduhkan dan bisa dirasakan sebagai pesan bersama,” ujarnya.

Anggota Komisi I DPR RI itu juga mengaitkan sikapnya dengan ajaran Bung Karno tentang kemanusiaan dan solidaritas global, termasuk soal Palestina.

“Pesan Bung Karno tentang Palestina itu bukan semata soal geopolitik, tapi keberpihakan pada keadilan dan kemanusiaan,” katanya.

Menurut Rachmat, semangat Ramadan sebagai bulan empati dan pembelaan terhadap kaum lemah harus tercermin dalam sikap politik yang berpihak pada persatuan dan keadilan.

“Nasionalisme tidak pernah bertentangan dengan agama. Agama memberi arah moral, sementara nasionalisme menjadi ruang bersama yang mempersatukan perbedaan,” ujarnya.

Terkait kehadiran Selly Andayani dalam baliho Ramadan itu, ia menyebutnya sebagai bentuk kebersamaan keluarga dalam menyampaikan pesan sosial.

“Kami ingin hadir menyampaikan pesan kebaikan. Selebihnya, publik tentu memiliki penilaian masing-masing, dan itu kami hormati sebagai bagian dari demokrasi,” katanya.

Rachmat menegaskan, kehadiran di ruang publik bukan aktivitas musiman, melainkan komitmen jangka panjang untuk terus berdialog dengan masyarakat NTB dan merawat nilai kebangsaan.

“Politik kan bukan kerja lima tahunan. Ini kerja nilai yang harus dijalankan terus-menerus. Kami ingin selalu hadir dan berjalan bersama rakyat, dengan kemanusiaan dan keadilan sebagai pijakan,” tutup Ketua DPD PDI Perjuangan NTB ini.

Editor : Rury Anjas Andita
#Rachmat Hidayat #Selly Andayani #keberagaman #baliho ramadan #ruang publik