LombokPost – Pemilih kalangan muda benar-benar mendominasi jumlah pemilih secara nasional. Ledakan demografi menempatkan kalangan pemilih dari kelompok milenial dan Generasi Z (Gen Z) menjadi penentu arah politik elektoral.
Ini berdasarkan hasil pleno rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) selama semester satu 2026 yang ditetapkan KPU RI.
Diketahui total pemilih nasional mencapai 214.354.667 jiwa. Komposisi ini menempatkan milenial yang lahir antara 1981-1996 sebagai kelompok pemilih terbesar nasional. Yaitu mencapai 68.873.953 jiwa atau 32,13 persen. Sedangkan pemilih Gen Z
yang lahir antara 1997 sampai 2008, sebanyak 52.638.331 jiwa atau 24,56 persen.
Baca Juga: Pemilih Muda Tembus 61 Persen, Milenial dan Gen Z Pegang Kendali Politik Elektoral di NTB
Jika dua kelompok pemilih ini digabung mencapai 56,69 persen. Selain milenial dan Gen Z, pemilih dari kelompok Gen X juga cukup besar, yakni 58.158.147 jiwa atau 27,13 persen.
Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin mengatakan hasil pemutakhiran data menunjukkan pemilih masih didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z. Karena itu, KPU berupaya menyiapkan strategi baru untuk mendekati kedua kelompok generasi tersebut. Salah satunya dengan mengembangkan teknologi informasi.
"Artinya, pemilih dari kalangan pemilih muda ini memang terus bertambah. Salah satunya karena penambahan pemilih pemula yang sebelumnya tidak masuk database karena belum mencapai batas usia minimal 17 tahun," kata Mochammad Afifuddin dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7).
Baca Juga: Pemilu 2029 Dominasi Pemilih Muda, KPU Gencarkan Pendidikan Politik Berkelanjutan
Disampaikan, populasi pemilih muda mendominasi baik secara nasional maupun di daerah. Ini menjadi atensi serius bagi penyelenggara pemilu. "Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi kami di KPU untuk mengalihkan pendekatan pendidikan pemilih dari yang bersifat insidental menjadi pendidikan pemilih berkelanjutan," jelas Afifuddin.
Anggota KPU RI August Mellaz menyampaikan dominasi pemilih kelompok muda juga punya tantangan. Sebab, tanpa kualitas literasi politik yang memadai, mereka rentan menjadi objek mobilisasi suara, bukan subjek demokrasi yang kritis.
"Khususnya Gen Z. Pendidikan pemilih harus bertransformasi dari sekadar sosialisasi teknis menjadi upaya membangun kesadaran politik yang substansial jauh sebelum pemilu dimulai," jelas Mellaz.
Baca Juga: Survei Nasional Sebut Anak Muda Jadi Magnet Pemilih di Pemilu 2029
Nah, salah satu tantangan terbesar dalam menjangkau pemilih muda adalah relevansi metode komunikasi. Mellaz menyatakan bahwa pola sosialisasi konvensional yang satu arah tidak efektif untuk Gen Z. Karena mereka terbiasa dengan dialog terbuka dan kecepatan informasi. Oleh karena itu, penyelenggara pemilu perlu menciptakan ruang partisipasi yang interaktif.
Pendidikan pemilih berkelanjutan harus diterjemahkan ke dalam format yang berbasis teknologi. Seperti kanal konsultasi digital dan forum diskusi daring. "Ini akan memotivasi generasi muda untuk berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi, tidak hanya di bilik suara, tetapi juga sebagai agen perubahan," paparnya.
Kondisi Pemilih di NTB
KPU NTB juga telah memetakan kondisi pemilih secara demografis. Hingga akhir Juni 2026, total pemilih berkelanjutan di NTB mencapai 4.173.790 orang. Ini tersebar di 10 kabupaten/kota, 117 kecamatan, dan 1.166 desa/kelurahan.
Baca Juga: Memikat Hati Pemilih Muda
Pemilih muda dari kalangan milenial dan Gen Z juga menjadi kekuatan dominan dalam peta politik elektoral di NTB. Komposisi pemilih muda ini mencapai lebih dari 61 persen dari total pemilih. Ini berdasarkan Daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB) semester pertama 2026 yang dihimpun KPU NTB. "Berdasarkan kelompok usia, mayoritas pemilih memang dari kalangan pemilih muda," kata Ketua KPU NTB Muhammad Khuwailid.
Dijelaskan, sebanyak 1.417.707 pemilih merupakan generasi milenial. Persentasenya mencapai 33,97 persen. Sedangkan Gen Z mencapai 1.135.916 pemilih atau 27,22 persen.
Kelompok pemilih berikutnya dari kalangan Gen X yang lahir antara tahun 1965 sampai 1980. Juga ada baby bommer dan terakhir adalah generasi tertua, yakni pre bommer yang lahir tahun 1946 ke bawah. "Jumlah ini kami himpun berdasarkan klasifikasi usia dari seluruh KPU kabupaten/kota se-NTB," jelas Khuwailid. (mar/r2)
Editor : Jelo SangajiSumber : Liputan Berita Lombok Post