LombokPost-Bukan cerita tentang jabatan dan kekuasaan. Buku “Guru Madrasah Jadi Wakil Walikota: Takdir Allah yang Mesti Dijalani” merekam perjalanan panjang seorang anak Sekarbela Kota Mataram yang ditempa kegagalan, doa, dan jalan hidup yang tak pernah direncanakannya.
Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari panggung besar. Sebagian justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana, dari tempat seseorang belajar tentang ketekunan, pengabdian, kegagalan, dan harapan.
Begitulah perjalanan hidup TGH. Mujiburrahman, S.H., M.Pd. Seorang guru madrasah kelahiran Sekarbela, Kota Mataram, yang dalam perjalanan waktu dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Wali Kota.
Kisah perjalanan itu kini dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Guru Madrasah Jadi Wakil Walikota: Takdir Allah yang Mesti Dijalani.”
Namun, buku tersebut tidak ditulis sebagai catatan tentang jabatan. Bukan pula cerita mengenai pertarungan politik atau perjalanan menuju kekuasaan.
Lebih dari itu, buku tersebut adalah kisah seorang anak manusia yang berjalan melalui lorong panjang kehidupan. Tentang jatuh dan bangun. Tentang kegagalan yang tidak selalu berarti akhir. Tentang harapan yang terkadang datang melalui jalan yang sama sekali tidak pernah direncanakan.
“Ini kisah tentang bagaimana Allah menuntun langkah saya sebsgai seorang hamba melalui jalan-jalan yang tidak pernah ia rencanakan sendiri,” buka TGH Mujib, sapaannya saat ditemui Lombok Post di kediamannya, Minggu (30/8).
Dia memaparkan sekilas isi buku yang ditulisnya hanya dalam sebulan tersebut. Dari berbagai peristiwa yang dilalui, menemukan satu keyakinan sederhana, yakni takdir Allah selalu menemukan jalannya.
Dia menegaskan buku ini lahir bukan semata-mata untuk merekam perjalanan pribadi. TGH Mujib ingin pengalaman hidupnya menjadi ruang refleksi bagi siapa saja yang sedang berjuang menghadapi kerasnya kehidupan.
Sebab, menurutnya, kesuksesan tidak pernah hadir secara instan. Di balik pencapaian yang terlihat indah, selalu ada proses panjang yang dipenuhi tantangan, hambatan, perjuangan, bahkan kegagalan.
"Tidak semua rencana manusia berjalan sesuai harapan. Ada jalan yang terjal. Ada pintu yang tertutup. Ada cita-cita yang harus tertunda," paparnya.
Baca Juga: Filosofi Piala Dunia 2026, Wawali TGH Mujiburrahman Tegaskan ASN Mataram Harus Lebih Disiplin
Bahkan ada kegagalan yang memaksa seseorang kembali memulai dari titik yang tidak pernah diinginkan. Namun, justru di titik-titik itulah manusia ditempa.
Ujian kehidupan, dalam pandangan Mujiburrahman, bukan hanya tentang kesulitan yang harus dilewati. Lebih dari itu, ia menjadi proses pembentukan diri. Seseorang belajar menjadi lebih kuat, matang, sabar, dan bijaksana karena pernah berhadapan dengan keadaan yang tidak mudah.
Perjalanan dari seorang guru madrasah hingga dipercaya menjadi Wakil Wali Kota pun tidak terjadi dalam semalam.
Ada proses panjang yang menyertainya. Belajar. Mengabdi. Berinteraksi dengan masyarakat. Mendengar persoalan warga. Membangun kepercayaan. Hingga menghadapi berbagai dinamika kehidupan yang terkadang tidak berjalan sesuai keinginan.
Setiap fase meninggalkan pelajaran. Setiap perjumpaan menghadirkan pengalaman.
Dan setiap kegagalan, pada akhirnya, menjadi bagian dari jalan yang membawanya menuju fase kehidupan berikutnya.
"Melalui buku ini, saya ingin menyampaikan kepada semua yang membacanya bahwa kegagalan bukanlah garis akhir. Kegagalan justru dapat menjadi bagian dari proses menuju keberhasilan," paparnya.
Bukan kalimat klise. Dia membeberkan pernah gagal diterima di SMPN 1 Mataram. Pernah berhenti sekolah bahkan sempat berhenti kuliah. Namun selama ada niat baik yang dilandasi keyakinan dan ikhtiar maksimal, Allah SWT diyakininya akan senantiasa menyiapkan jalan kesuksesan. Semua cerita tersebut dipaparkan di dalam buku ini.
Pria yang pernah duduk di kursi DPRD Kota Mataram ini menegaskan, tantangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti. Hambatan pun bukan sesuatu yang harus selalu ditakuti. Sebab, jalan yang berliku dapat menjadi tempat seseorang belajar menemukan arah.
Dengan kesabaran, ikhtiar, doa, dan keteguhan hati, perjalanan yang awalnya terasa berat bisa mengantarkan seseorang pada tujuan yang bahkan sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Pesan itulah yang menjadi ruh dalam judul “Takdir Allah yang Mesti Dijalani.”
Takdir, dalam buku ini, bukan dimaknai sebagai sikap menyerah tanpa usaha. Sebaliknya, ia merupakan pertemuan antara ikhtiar manusia dan tawakal kepada Allah.
Manusia tetap harus berjalan. Berusaha. Belajar. Bangkit setelah jatuh. Menghadapi tantangan dengan kesungguhan. Namun, pada akhirnya, hasil dari seluruh ikhtiar itu berada dalam wilayah kekuasaan Allah Swt. Apa yang dianggap manusia sebagai jalan terbaik, belum tentu menjadi jalan terbaik dalam ketetapan-Nya," tegas mantan Ketua DPD II Golkar Mataram ini.
Begitu pula kegagalan yang pada awalnya terasa menyakitkan. Bisa jadi, justru kegagalan itulah cara Allah mengarahkan seseorang menuju kehidupan yang lebih baik.
"Bagi siapapun yang tertarik dengan buku ini, bisa didapatkan secara gratis selama persediaan masih ada dengan menghubungi Yayasan Baitul Ashkiya Sekarbela," tandasnya. (ton)
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post