Alih-alih menjauhi mereka, dia menegaskan justru kepedulian harus ditunjukkan. ODP dan PDP, termasuk keluarganya tak boleh dikucilkan. Namun dibantu sepenuh tenaga, dan dikuatkan morilnya.
Dia menceritakan, proses penyalurannya bantuan tidak seperti biasa. Bantuan diletakkan di teras atau pintu rumah mereka masing-masing. Setelah itu, disempatkan berbincang dan bertatap muka sesaat, namun jarak jauh. ”Ini untuk menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata istri dari Lurah Tiwugalih Lalu Haerul Rijal tersebut.
Selain itu, mereka tetap menggunakan masker. Penyaluran didampingi Bhabinkamtibmas, Babinsa dan badan keamanan kelurahan (BKK). Begitu selesai mengunjungi satu rumah, tim langsung cuci tangan menggunakan sabun. Begitu seterusnya.
Langkah itu dilakukannya, agar keluarga ODP dan PDP tidak keluar rumah. Mereka harus mengikuti ajuran pemerintah, isolasi mandiri 14 hari. ”Dari sekian banyak itu, ada satu klaster Gowa,” kata Tisniwati.
Selebihnya pelaku perjalanan tanpa gejala (PPTG). Bantuan berupa paket sembako. Isinya beras, telur, mie instan, minyak goreng, susu, dan perlengkapan mandi. Bantuan diperoleh dari sumbangan sukarela ibu-ibu di Kelurahan Tiwugalih, sumbangan pribadi Lurah Tiwugalih dan pihak ketiga.
Dia berharap, semakin banyak pihak lain yang ikut membantu. Apalagi beberapa hari kedepan sudah mulai puasa.
Bantuan juga menyasar mereka yang terkena dampak secara ekonomi. Termasuk keluarga-keluarga tenaga medis. Baik dokter maupun perawat yang bertugas di rumah karantina, puskesmas, maupun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya. ”Prinsipnya, kita semua membutuhkan bantuan,” kata Kepala Desa (Kades) Penujak, Kecamatan Praya Barat Lalu Suharto, terpisah.
Dia menyarankan pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemkab harus membagi rata bantuan yang ada. Karena dampak ekonomi akibat Virus Korona, dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Yang kaya jatuh miskin dan yang miskin, tambah miskin. ”Itu yang terjadi di tempat kami,” pungkasnya. (dss/r9) Editor : Administrator