Penentuan waktu pelaksanaan tradisi budaya masyarakat itu sendiri akan melalui sangkep warige atau musyawarah bersama.
“Musyawarah bersama kita laksanakan 7 Januari mendatang,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Loteng H Lendek Jayadi pada Lombok Post, Minggu (2/1/2021).
Bagi Jayadi, bau nyale bisa dijadikan event ikutan lainnya. Sebelum digelarnya balapan MotoGP di sirkuit Mandalika Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika 18-20 Maret mendatang. Termasuk pramusim MotoGP 11-13 Februari mendatang.
Untuk menentukan apa saja, berapa dan di mana event yang dimaksud, disbudpar akan berkonsultasi dengan bupati dan wakil bupati. Termasuk, satgas Covid-19 kabupaten dan provinsi. “Keputusan tertinggi ada pada bupati dan wakil bupati,” tandas mantan Sekretaris Disbudpar Loteng tersebut.
Dijelaskan, kalau bau nyale sendiri tetap dilaksanakan warga pada umumnya setiap tahun. Karena itu menjadi tradisi budaya leluhur. Seperti yang dilaksanakan tahun 2021 lalu. Warga tumpah ruah ke Pantai Seger Desa Kuta, Kecamatan Pujut. Di tempat itu, konon Putri Mandalika menceburkan diri ke laut.
Sosok Putri Mandalika itulah, kemudian berubah wujud menjadi cacing laut, atau yang sekarang dikenal nyale. Hanya saja, pemerintah kala itu tidak menggelar sederetan event. “Mari kita petik pelajaran dari perjuangan Putri Mandalika,” seru Jayadi.
Sementara itu, Kapolres Loteng AKBP Hery Indra Cahyono mengatakan, pertengahan Januari mendatang jajaran polres mulai padat dengan agenda pengamanan. Baik patroli, razia hingga siaga di pos pengamanan dan pelayanan masing-masing. Tidak saja pengamanan MotoGP, tapi bau nyale.
“Yang pasti daerah kita tercinta ini ada pada level satu, atau zona hijau Covid-19,” ujar Hery.
Kendati demikian, tetap pemerintah dan aparat bekerja kerja mengingatkan warga tetap, dan selalu melaksanakan protokol kesehatan dan vaksinasi. (dss/r5)
Editor : Baiq Farida