“Ini jangan sampai terjadi lagi,” tegas Plt Direktur Utama PDAM Praya Loteng Bambang Supriatomo, Senin (14/3).
Untuk itu, pihaknya secara bergiliran mengecek kondisi sumber mata air di wilayah utara. Beberapa hari lalu, di sumber mata air Tibu Nangklok I dan Tibu Nangklok II di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara.
Saat kondisi normal kapasitas air di tempat itu sebanyak 160 liter per detik. Namun, kalau musim kemarau turun menjadi 45 liter per detik. “Musim kemarau kita perkirakan akan terjadi akhir April-September mendatang,” ujar Bambang.
Selanjutnya, jajaran PDAM juga akan turun ke sumber mata air Aik Bone di Desa Aik Bukaq. Di tempat itu, kapasitas air baku mencapai 70 liter per detik. Tapi kalau musim kemarau turun menjadi 10,5 liter per detik.
Kemudian sumber mata air Sesere di Desa Tanak Beak. Kapasitasnya, sebanyak 150 liter per detik, kalau musim kemarau turun menjadi 90 liter per detik. “Prinsipnya, yang terpenting kita sudah ikhtiar dulu,” tandas Bambang.
Apa penyebab penurunan akan dicarikan jalan keluar jangka pendek. Jangka panjangnya tentu tetap mengajak warga memperhatikan hutan. “Dalam waktu dekat ini, kita akan melakukan rehabilitasi sumber-sumber mata air yang ada,” tambah Direktur Teknik PDAM Praya Lalu Sukemi Adiantara, terpisah.
Kemudian, akan dilakukan pembersihan sedimentasi dengan memasang filtrasi, guna meningkatkan kualitas air baku. Kemudian meminimalisir dan menekan kebocoran pipaisasi. “Dan usaha-usaha lain agar kapasitas air yang ada tidak turun begitu signifikan,” pungkas Sukemi. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita