“Salah satunya terjadi di tempat kami,” tandas Amaq Jalaludin, salah satu kelompok peternak sapi Tunas Urip di Dusun Pejongan, Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah pada Lombok Post, Kamis (19/5).
Ketiga kecamatan itu yakni Kecamatan Jonggat ditemukan terinfeksi PMK sebanyak 153 ekor. Tersebar di Desa Sukarara sebanyak tiga ekor, Desa Nyerot sebanyak 58 ekor, Desa Puyung sebanyak 54 ekor, dan Desa Barejulat sebanyak 38 ekor. Kemudian di Kecamatan Praya Timur di Desa Sukaraja sebanyak 54 ekor.
Di Kecamatan Praya Barat di Desa Banyu Urip sebanyak satu ekor dan terakhir di Kecamatan Praya Tengah di Desa Kelebuh sebanyak 400 ekor. “Di tempat kami ini total sapi sebanyak 63 ekor,” lanjut Amaq Jalaludin.
Tiga ekor diantaranya, kata Amaq Jalaludin, tidak bisa diselamatkan. Terdiri dari satu ekor indukan dan dua ekor anakan. Sapi itu diketahui setelah, para peternak meninggalkan kandang. Beberapa jam kemudian sapi ditemukan mati. Selain itu, peternak juga terpaksa memotong satu ekor sapi.
Itu karena, kondisinya sudah lemah. Dagingnya pun dibagi rata untuk para peternak. “Ditambah tiga ekor lagi terpaksa kami jual,” ujarnya.
Untuk itu, pihaknya berharap Dinas Pertanian (Dispertan) Loteng secepatnya turun tangan. Jika tidak, maka bisa saja semua sapi yang ada akan mati.
“Dari total 19 dusun di Desa Kelebuh, 11 dusun diantaranya ditemukan sapi-sapi milik warga terinfeksi PMK,” kata Kepala Desa (Kades) Kelebuh Nurahim, terpisah.
Dia menekankan, kondisi seperti itu membuat warga Desa Kelebuh resah dan takut. Karena dikhawatirkan virus PMK menular ke hewan-hewan ternak mereka. Seperti ayam, burung, kerbau dan kambing. Termasuk manusia.
“Pemerintah desa berharap dispertan memperbanyak sosialisasi dan langkah cepat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dispertan Loteng Taufikurrahman Pua Note mengatakan, kasus PMK pertama kali yang ditemukan di Gumi Tatas Tuhu Trasna yakni di Desa Kelebuh. Dalam hitungan hari langsung menyebar ke desa-desa lain.
Dispertan pun langsung bergerak cepat berupaya memutuskan mata rantai penularan. “Dengan cara, menutup pasar hewan, menutup aktivitas kandang komunal dan menyetop lalu lintas keluar masuk hewan,” papar Arman.
Dia melihat, langkah dispertan membuahkan hasil. Yang terpenting, para peternak patuh terhadap aturan yang berlaku. “Selebihnya, sapi-sapi yang sehat kita berikan suntikan. Sehingga memiliki kekebalan tubuh,” ujar Arman.
Sedangkan, sapi-sapi yang terinfeksi PMK dilakukan isolasi total, pengobatan total dan penyemprotan disinfektan secara total. Kemudian meminta para peternak rajin-rajin membersihkan kandang. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita