“Saat ini, kami sedang menghitung berapa jumlahnya,” kata Kepala Dikes Loteng Suardi saat dijumpai di ruang tunggu bupati, Rabu (25/1).
Menurut dia, secara kasat mata kerugian akibat kasus itu diperkirakan Rp 100 juta. Saat kejadian, kata Suardi, puskesmas tidak ada yang jaga. Kondisi puskesmas juga sepi karena pelayanan kesehatan untuk sementara waktu dipindah ke tempat lain.
“Kami juga belum tahu kapan kejadiannya. Dan, kami juga tidak tahu apa motifnya,” tandasnya.
Yang pasti, pihaknya menyerahkan persoalan ini ke Polsek Praya Barat Daya untuk penyelidikan lebih lanjut. Mengingat, pembangunan Puskesmas Batujangkih menurut rencana akan dilaksanakan kembali. “Saat ini sedang proses lelang,” bebernya.
Selain itu, saat ini sedang proses perhitungan dari Universitas Mataram (Unram) dan Polda NTB. Pembangunannya sendiri sempat mangkrak lantaran ditinggal pihak perusahaan. Progres terakhir mencapai 63 persen. Artinya, tinggal 37 persen lagi bangunan layanan kesehatan di desa yang bertetangga dengan Desa Montong Sapah tersebut rampung.
“Untuk pembangunan lanjutan, kita siapkan anggaran Rp 1,9 miliar,” kata Suardi.
Belajar dari persoalan sebelumnya, pihaknya telah meminta jajaran tenaga kesehatan (nakes) di UPT Puskesmas Batujangkih secara bergiliran berjaga-jaga. Sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat. Harapannya, mereka juga ikut membantu. “Terkait masalah itu, kami masih meminta klarifikasi,” kata Kapolsek Praya Barat Daya Iptu Samsul Bahri pada Lombok Post yang dihubungi melalui handphone.
Disinggung bagaimana langkah selanjutnya. Samsul belum berani berkomentar terlalu jauh. “Karena kebetulan saya lagi koordinasi dengan reskrim (Polres Loteng) juga ini,” pungkasnya. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita