----
Berugak dengan enam kaki yang terbuat dari bambu beratapkan genteng di depan ruang tata usaha SMAN 1 Praya Barat di Desa Mangkung, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah itu terlihat ramai dari jauh. Karena penasaran, Lombok Post mendekat guna ingin mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan ibu-ibu tersebut.
Jika dilihat dari jauh, pasti orang mengira ibu-ibu itu sedang bergosip atau sekadar duduk-duduk santai. Ternyata, ibu-ibu itu tengah belajar membuat kerajinan makrame.
Makrame merupakan, seni kerajinan yang terbuat dari berbagai macam benang. Itu dirangkai menjadi satu, sehingga menjadi aneka kerajinan yang memiliki nilai seni. Bahkan harga tinggi.
“Biasanya yang banyak memasan itu dari hotel,” kata Ibu Manggi pada Lombok Post di sela-sela mengajar kerajinan makrame.
Para ibu-ibu itu pun serius memperhatikan penjelasan dari Ibu Manggi. Seolah mereka tidak peduli siapa yang datang. Mereka ingin keterampilan yang satu itu dikuasai. Sehingga, bisa dijalankan di rumah masing-masing. Atau saat hari-hari libur.
Begitu dianggap penjelasan dari Ibu Manggi sudah dimengerti, mereka mulai mempraktikkannya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok ada yang lima orang, empat orang hingga tiga orang.
Saat proses belajar itu, kalangan bapak-bapak pun tidak mau kalah. Mereka juga ikut mencoba belajar. “Saya percaya, kalau kita serius dan memiliki kemauan keras, pasti bisa dan menghasilkan,” ujar pegawai administrasi di SMAN 1 Praya Barat tersebut.
Jenis-jenis kerajinan makrame sendiri ada hiasan dinding, kap lampu hias, tirai, pot gantung, gendongan bayi atau ayunan duduk, pernak pernik dekorasi rumah hingga gantungan kunci dan masih banyak lagi.
“Kalau saya pribadi tidak pernah kursus atau ikut pendidikan keterampilan. Tapi, otodidak. Itu dari YouTube,” kata ibu berkacamata tersebut.
Untuk itu, pihaknya percaya sebagian besar ibu-ibu di SMAN 1 Praya Barat menguasai dan mahir dalam kerajinan makrame. Untuk bahan-bahannya sendiri tidak sulit. Dipertokoan Praya misalnya ada. Baik aneka benang maupun kayu, atau kawat.
“Dalam kerajinan makrame ini, kita butuh kecermatan, ketelitian dan kehati-hatian,” ujarnya lagi. Jika tidak, maka hasilnya tidak maksimal.
Dari proses belajar kerajinan makrame itu, ada beberapa ibu-ibu yang berniat akan serius. Mereka berencana akan membuka usaha di rumah masing-masing. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita