"Pemkab ini kan terkesan membangun sesuatu tidak berdasarkan pertimbangan yang maksimal," ucap anggota DPRD Loteng Legewarman pada wartawan, Jumat (21/7).
Politisi Partai Bulan Bintang (PBB) ini mengingatkan, lokasi pembangunan KIHT yang dianggap tidak sesuai. Mengingat anggaran yang digelontorkan tak main-main, sekitar Rp 4 miliar.
"Seharusnya dalam pembangunannya itu dilihat dulu strategis atau tidak, misal kalau dibangun di Praya Timur atau Janapria kan sesuai, karena disana banyak petani tembakau dan lahan tembakau juga," terangnya.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, kata Lege, seperti pembangunan pasar seni yang ada di Desa Sengkerang, Kecamatan Praya Timur dan IKM sarang walet di Penujak, Kecamatan Praya Barat. "Itu juga tidak strategis, sehingga sekarang belum jelas mau diapakan," sindirnya.
Dikatakan, segala jenis pembangunan seharusnya dipikirkan dan dibuat rencana ke depan serta pertimbangan lokasinya. Sehingga hal itu bisa dimanfaatkan dan tidak terkesan hanya untuk menghabiskan anggaran semata. "Kami berharap agar pemda ketika membangun sesuatu dipikirkan matang-matang," tandasnya.
Terpisah, Kepala Bapperinda Loteng Lalu Wiranata yang dikonfirmasi mengatakan, pembangunan KIHT tidak harus berada di lokasi atau kawasan yang lebih banyak menanam tembakau. "Sebab yang tanam tembakau ini menyebar," imbuhnya.
Pembangunan KIHT Barabali, kata dia, menggunakan lahan seluas 1,3 hektare (Ha) milik Pemkab Loteng. Di sekitar lokasi juga sudah cukup banyak pengusaha lokal yang memproduksi rokok rumahan.
Lokasi pembangunan KIHT Barabali juga sudah sesuai jalur ekonomi yang dilintasi provinsi dan nasional. Sehingga menjadi lebih mudah dalam pendistribusian hasil produksi tembakau. "Strategis karena dekat dengan jalan provinsi dan nasional, akses kemana-mana lebih gampang," terang Miq Wir akrab disapa.
Menurut Miq Wir, kehadiran pabrik rokok di sana bukan sekadar pemilihan tembakau melainkan sebagai pancingan agar perolehan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) yang didapat Loteng semakin bertambah.
"Sebagai langkah kita untuk memperkuat posisi tawar tembakau Loteng, punya pabrik maka potensi dapat itu (DBHCHT, red) menjadi besar," tutupnya. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita