Kabar tersebut dibenarkan Kepala Dusun Bun Salak 2 Muhammad Toha mengatakan, seorang warganya berinisial SN usia 30 tahun nyaris menikahi seseorang yang dikira adalah wanita berinisial NE usia 18 tahun. NE merupakan warga Desa Krame Jati, Loteng
”Belakangan diketahui, NE adalah seorang pria dengan identitas asli ZK,” katanya pada wartawan, kemarin (12/9).
Ia menjelaskan, awalnya NE melakukan prosesi merarik pada Kamis (7/9) malam lalu. Merarik dimulai dari pinangan calon mempelai pria yang kemudian membawa calon mempelai perempuan ke rumahnya. Setelah tiga hari, dilanjutkan dengan proses nyelabar.
”Saat nyelabar ini baru diketahui dia (NE alias ZK, red) adalah laki-laki. Nyarlak,” timpalnya sambil menepuk jidat.
Sebagai informasi, proses nyelabar merupakan salah satu tahapan dari tradisi perkawinan suku Sasak di Lombok. Setelah mempelai wanita dibawa ke rumah pengantin pria. Dalam proses ini, keluarga mempelai pria memberikan kabar pada keluarga mempelai wanita, bahwa si anak (perempuan) telah menikah.
Saat proses nyelabar ini, diakui, keluarga mempelai wanita justru kebingungan saat mendapat kabar ada anak perempuannya menikah dengan pria dari dusunnya. Sebab mereka merasa tidak memiliki anak wanita. Usut punya usut, ternyata NE merupakan seorang pria yang dikenal memiliki kecenderungan memiliki sifat wanita.
”Ampure niki pak kadus, ye mame anak tiang, wah tesunat (Maaf Pak Kadus, dia laki-laki anak saya, sudah disunat juga, red),” kata Toha menirukan ucapan ayah dari ZK.
Atas informasi ini, pihaknya pun memberitahu pada calon pengantin pria bahwa yang akan dinikahinya adalah seorang pria, bukan wanita. Pernikahan itu pun batal.
Mengenai NE alias ZK, kata Toha, telah dipulangkan ke rumah keluarganya di Desa Krame Jati. Sedangkan korban pria diinformasikan akan segera menikah dengan wanita tulen dari desanya sendiri.
”Sekarang NE sudah di rumah. Mereka belum sempat dinikahkan. Beruntung cepat diketahui pada saat nyelabar," katanya. (ewi/r11)
Editor : Redaksi Lombok Post