LOMBOKPOST-Bulan Desember diidentikkan dengan kehadiran musim hujan yang melimpah. Namun ironisnya. Ketika seharusnya mempersiapkan diri menyambut rintik hujan, cuaca panas yang menyengat justru menghampiri.
“Saat ini wilayah NTB sudah memasuki puncak musim hujan, namun kenapa terasa panas karena ini dampak El Nino yang mengurangi curah hujan di Indonesia, khususnya NTB,” ucap Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun BIZAM Aprilia Mustika pada wartawan di ruang kerjanya, kemarin (26/12).
Ia menjelaskan, musim hujan namun suhu terasa panas diakibatkan angin yang sudah tertiup dari daratan Asia menuju wilayah Indonesia, NTB. Ditengah siklus ini, ada gangguan sirkulasi disekitar Laut Cina Selatan membuat angin yang seharusnya menuju wilayah selatan menjadi terganggu dan diperkuat datangnya angin dari wilayah timur.
“Sehingga yang seharusnya kita hujan justru kembali panas seperti kemarau. Dan ini merata di Indonesia bagian selatan,” terangnya.
April akrab disapa, menuturkan, kondisi tersebut berangsur-angsur mulai berkurang dan kembali pada musim hujan. Namun, perlu diperhatikan dapat berpotensi timbulnya angin puting beliung. Sehingga masyarakat perlu mewaspadai dengan ciri-ciri awan cumulonimbus, dengan rentan waktu pagi hingga menjelang siang. Ketika sudah matang dan menghitam bisa berpotensi menimbulkan angin puting beliung.
“Angin puting beliung tidak hanya di daratan saja, bisa juga di tengah laut atau disebut Water Spout. Sehingg perlu juga diwaspadai para nelayan dan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai,” ucap wanita kelahiran Jawa ini.
April menjelaskan, puncak musim hujan di NTB terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari namun akibat El Nino kategori sedang. Meski demikian dampak El Nino ini akan menurun dari Januari hingga April daro status sedang menjadi lemah. “Hampir sebagian besar di NTB sudah masuk puncak musim penghujan,” tukasnya. (ewi)
Editor : Redaksi Lombok Post