Melipat dan menyortir surat suara untuk Pemilu 2024, menjadi tahapan yang dinanti-nantikan masyarakat. Selain mengisi waktu luang, mereka mendapat pengalaman dan cuan tambahan. Ahmad Sahrul salah satunya.
-------------
BEKAS gedung Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLK-LN) Provinsi NTB di Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat mendadak ramai. Sejak dijadikan sebagai lokasi gudang logistik Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lombok Tengah (Loteng) untuk Pemilu 2024.
Satu per satu kendaraan roda dua memenuhi lapangan yang hampir sebagian tertutup rumput dan ilalang. Pria dan wanita, tua dan muda tumpah ruah di halaman depan gedung. Mereka datang karena menjadi petugas sortir dan lipat surat suara. Ahmad Sahrul warga Penujak salah satunya.
Ia datang sendiri dari rumah usai solat dzuhur dan makan siang. Setiba di depan gedung, Sahrul akrab disapa, belum bisa memasuki gedung. Begitu pun yang lain. Mereka yang sudah tiba, harus registrasi lebih dahulu. Tidak mengantongi tanda pengenal petugas dan KTP, maka tidak diperbolehkan masuk gedung.
Sahrul dan ratusan petugas lainnya mendapat arahan dan tata cara sortir dan lipat dari anggota KPU Loteng. Di tengah arahan yang dibacakan langsung oleh Sekretaris KPU Loteng Hadi Firmansyah, hujan mengguyur langit Desa Penujak. Membuat ratusan petugas sortir dan lipat semakin mendekati teras gedung dan arahan pun dipercepat.
“Ingat tidak boleh membawa handphone, tas, makanan dan minuman simpan di luar, yang bapak-bapak jangan sering ijin keluar untuk merokok ya,” seloroh Hadi disambut tawaan para petugas sortir dan lipat.
Setelah masuk ke dalam gedung, bapak dua anak ini duduk melingkar sesuai kelompok. Setiap kelompok terdiri enam orang. Usai mendapat dus surat suara yang diberikan pengawas, Sahrul mulai bekerja. Lembaran kertas surat suara calon presiden dan wakil presiden dikeluarkan dari bungkus plastiknya.
Dari gelagatnya, Sahrul dan anggota kelompoknya terlihat sudah mahir dalam menyortir dan melipat surat suara. Ini kali kedua, setelah ikut kegiatan serupa pada akhir Desember lalu. Dalam melipat ini, bukan hanya sekedar melipat. Ada manajemen kerjasama antar kelompok jika ingin pekerjaan segera tuntas dan mendapat jumlah kertas lipat yang banyak.
“Lumayan upah yang diberikan Rp 200 per lembar untuk Pilpres, sedangkan Pileg dihitung Rp 300 per lembar,” ucap pria yang sehari-hari buruh tani ini.
Usai Sahrul membagi tugas pelipatan dengan anggotanya, anggota yang lain mengeluarkan kertas surat suara lalu menghitung kembali lembaran. Selanjutnya, diberikan ke anggota lain yang khusus melipat area lipatan surat suara. Beberapa orang anggota melipat kembali dengan rapi dan mulus.
Uniknya, cara itu tidak dilakukan menggunakan tangan, melainkan botol minuman kecil yang bersih dan kering.“Ini untuk meluruskan lipatan surat suara, lebih rapi dan mulus,” ujarnya sembari menegaskan diperbolehkan KPU.
Setelah dipastikan hasil lipatan bagus, anggota lain bertugas menghitung kembali lembaran dan mengikat surat suara dengan gelang karet sebelum dimasukkan ke dalam dus dan ditimbang ulang pengawas.
Lain halnya dengan kelompok Siti Amanah. Pantauan Koran ini, kelompok dari wanita-wanita muda itu kesulitan saat melipat dan menyortir. Bahkan, untuk satu plastik surat suara saja memakan waktu cukup lama. Hingga akhirnya salah satu pengawas memberikan masukan, untuk saling berbagi tugas.
“Sulit juga diawal-awal, tapi seru juga karena tambah pengalaman,” pungkas mereka bersamaan. (lestari dewi)
Editor : Kimda Farida