LOMBOKPOST-Ketersediaan pupuk untuk para petani menjadi sorotan bagi calon wakil presiden (cawapres). Ini disampaikan dalam acara Debat Pilpres 2024 seri keempat bertema pembangunan berkelanjutan, sumber daya alam, lingkungan hidup, energi pangan, agrarian, masyarakat adat dan desa di Jakarta.
Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman tak menampik, subisidi pupuk untuk para petani mengalami penurunan. Yang semula berkisar 9,5 juta Ton, kemudian menjadi 7-6 juta Ton dan terakhir berada dalam posisi 4,7 juta Ton.
“Benar memang turun subisdi pupuk ini, bahkan separuhnya (dari 9 juta Ton, red) artinya semakin menurun,” ucap Mentan Amran pada wartawan usai kunjungan kerja ke Lombok Tengah di halaman kantor bupati, Kamis (25/1).
Lantas apa penyebab penurunan pupuk subisidi tersebut? Ia beralasan, harga bahan baku pupuk yang meningkat, peperangan antaran Ukraina dan Rusia. Disambung dengan pandemi Covid-19 yang membutuhkan anggaran lebih besar dalam penanganannya, sehingga banyak anggaran terpangkas atau refocusing.
“Dampaknya pun terasa pada sektor pertanian dalam segi subsidi pupuk yang dikurangi,” jelasnya.
Namun, perlahan-lahan Indonesia kembali bangkit dan perekonomian mulai membaik. Semakin baiknya kondisi ini membuat Presiden RI Joko Widodo menambah subsidi pupuk hingga Rp 14 triliun atau 2,5 juta Ton. “Alhamdulillah sekarang (subsidi pupuk, red) sudah dikembalikan,” tambah Mentan Amran.
Penyebab lain berkurangnya kebutuhan subsidi pupuk, lanjut Sulaiman, jumlah kelompok tani perorangan yang juga berkurang. Jika biasanya tenaga buruh tani yang dibutuhkan untuk lahan seluas satu hektare (Ha) mencapai 20 orang. Kini telah beralih menggunakan alat-alat pertanian yang lebih mudah dan cepat. Artinya, transformasi penggunaan teknologi dari tradisional ke modern semakin bagus dan berhasil.
“Saya harap siapapun yang mengeluarkan statement itu untuk dimohon tidak berbuat gaduh, apalagi menggunakan data-data yang tidak valid,” sindirnya.
Seiring perkembangan pembangunan di Indonesai, dirinya tak menampik turut mempengaruhi produktifitas hasil pertanin. Lalu apa solusi yang dibutuhkan? Maka kehadiran Food Estate menjadi jawaban yang diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Sebab solusi kedepan untuk ketahanan pangan adalah Food Estate yang membutuhkan lahan sangat luas dan besar.
“Ini namanya ekstensifikasi pertanian, yaitu Food Estate,” tegas Mentan Amran.
Mentan Amran memastikan program akselerasi produksi padi dan jagung pada 2024 berjalan dengan lancar. Ia pun datang ke Gumi Tatas Tuhu Trasna untuk melihat langsung dan meyakinkan bahwa pihkanya bisa melakukan akselerasi tanam. Lantaran dampak El Nino membuat masa penanaman mundur selama dua bulan.
Guna mendukung akselerasi produksi padi dan jagung, Mentan Amran meyakinkan bahwa Lombok khususnya menjadi salah satu kunci dari keberhasilan swasembada padi dan jagung. “Dulu swasembada bisa berhasil karena NTB. Dimana Lombok ambil bagian untuk padi dan Sumbawa ambil bagian untuk swasembada jagung. Kita mau kembalikan ini,” tukasnya.
Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri menambahkan, pendapatan produksi pertanian di Loteng mencapai hingga enam ribu ton gabah kering atau 370 ribu ton beras yang dimiliki dengan pola tanam padi-padi-palawija.
“Insya Allah, Lombok Tengah masih surplus soal beras,” katanya.
Kedepan, pertanian berkelanjutan terus digalakkan pemerintah daerah. Maka alat-alat pertanian ini sangat penting diupayakan agar petani semakin sejahtera. Termasuk ketersediaan pupuk subsidi, dimana Menteri Pertanian sebut ada tambahan hingga Rp 14 triliun.
“Ini menunjukkan semakin hari semakin diperhatikan para petani kita oleh pemerintah pusat,” punkas Pathul (ewi)
Editor : Kimda Farida