Pasangan kakek nenek bernama Gebuh (74 tahun) dan Madeng (71 tahun) di Dusun Lentak II, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Loteng viral setelah rumah gubuknya yang reot diunggah di media sosial. Berikut ulasannya.
LESTARI DEWI, Lombok Tengah.
SEPULUH menit lamanya waktu yang ditempuh menuju rumah kakek nenek Gebuh dan Madeng dari kantor desa Rambitan. Harusnya bisa lebih cepat. Namun karena kondisi jalan rusak parah dan berlubang menghambat perjalanan menuju kediaman kakek nenek yang viral di media sosial.
Kakek Gebuh dan Nenek Madeng viral lantaran tinggal di sebuah gubuk reot yang sangat tidak layak huni. Gubuk itu ditempati tiga orang. Selain Gebuh dan Madeng, ada remaja bernama Aditya alias Ocos. Remaja berusia 15 tahun itu sudah putus sekolah.
”Katanya viral saat anak saya sedang masak, dengan kondisi gubuk seperti ini,” ucap Gebuh alias Papuq Badong.
Gebuh dan Madeng yang sedari tadi duduk di atas tikar plastik mempersilakan para wartawan untuk masuk. Duduk di tikar beralaskan tanah. Tampak sekeliling dinding anyaman bambu sudah tak layak.
Dipastikan saat malam hari mereka akan kedinginan karena angin malam yang menembus dinding. Bahkan, ketika hujan pun tak terhitung berapa banyak titik yang bocor. Ditambah, rumah itu hampir roboh sehingga harus ditahan menggunakan 12 batang kayu agar bisa menahan beban rumah.
Papuq Badong menuturkan, meski reot namun inilah kediaman mereka untuk berteduh di kala panas maupun hujan. Rumah ini dibangun atas keprihatinan tetangga beberapa tahun silam. ”Rumah tempat tinggal sekarang saya ini merupakan rumah sumbangan dari tetangga bernama Inaq Resi yang saat ini tinggal di Dusun Silak, Desa Kuta,” jelasnya.
Dalam video viralnya di media sosial, sejumlah komentar mengatakan bahwa anak dari pasangan kakek nenek ini adalah seorang guide yang sukses dan memiliki rental mobil. Namun hal ini dibantah keduanya, yang ada sang anak justru menjadi juru parkir di Pantai Kuta. ”Bukan guide, jadi tukang parkir,” timpal Papuq Badong.
Untuk kehidupan sehari-hari, keduanya hidup dari pinjaman tetangga. Untuk bekerja pun mereka tidak bisa karena kondisi mereka sakit-sakitan. Papuq Badong mengalami katarak, sedangkan Papuq Medang lumpuh ringan yang membuatnya tidak bisa berjalan cukup jauh.
Ia juga membantah jika memiliki uang ratusan juta berkat penjualan tanah. Yang ada dirinya pernah menjual tanah ke tetangga seharga Rp 5 juta. Namun uang itu habis digunakan untuk membangun rumah batako. ”Uangnya saya pakai buat bikin rumah, namun sayang rumah tersebut roboh atap dan temboknya,” tambah Papuq Badong.
Pasangan lanjut usia ini berharap, anaknya bisa kembali melanjutkan sekolah setelah dua tahun lulus sekolah dasar (SD). Namun satu sisi ia juga bingung jika melanjutkan sekolah, anaknya akan pakai kendaraan apa untuk bersekolah. ”Kami harap anak ini bisa lanjut sekolah,” tukasnya.
Terpisah, Kepala Desa Rembitan Lalu Minaksa menjelaskan, terkait dengan rumah tidak layak huni yang viral ditegaskan memang bukan rumah tempat tinggal. Namun, tempat untuk menghalau binatang liar yang mengganggu tanaman. Pasangan lansia itu memiliki rumah lain, namun kondisinya tak jauh berbeda.
”Dan memang rumah aslinya sangat tidak layak huni. Sebab itu, atas nama pemerintah Desa Rembitan dan pribadi mulai besok pagi Insya Allah akan membangun rumah layak huni,” tandasnya. (*/r11)
Editor : Akbar Sirinawa