Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Sinta Timur Petugas ATC yang Menjaga Langit BIZAM (1), Belum Miliki Radar, Harus Pintar Imajinasikan Posisi Pesawat

Lestari Dewi • Jumat, 19 April 2024 | 16:05 WIB
Sinta Timur petugas ATC AirNav Indonesia Cabang Lombok menceritakan pengalamannya menjaga lalu lintas dilangit BIZAM.
Sinta Timur petugas ATC AirNav Indonesia Cabang Lombok menceritakan pengalamannya menjaga lalu lintas dilangit BIZAM.

Menjadi pengatur lalu lintas pesawat di bandara atau Air Traffic Controller (ATC) mungkin tak pernah ada dalam benak Sinta Timur.

Merasa “dijeblosin” orang tua, pada akhirnya takdir menuntunnya menjadi salah satu juru pemandu pesawat terbang.

-------

SINTA Timur menjadi salah satu petugas perempuan yang bekerja di AirNav Indonesia Cabang Lombok di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

Wanita berkepala empat ini, setiap harinya bersama dua orang rekan lainnya bergantian mengatur pesawat-pesawat yang akan mendarat maupun meninggalkan Bandara Lombok.

Wanita berjilbab yang ditemui disela-sela kegiatannya menceritakan bahwa ia sama sekali tak pernah berpikir untuk bekerja di ATC.

Ia merasa “dijebloskan” oleh orang tua saat lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang.

“Tiba-tiba, saya disuruh (orang tua, red) daftar saja ke sekolah penerbangan. Ya sudah saya daftar, lulus, fokus pendidikan hingga 1997, penempatan pertama di eks Bandara Selaparang dan berakhir disini,” ucap ibu empat orang anak itu.

Meski merasa dijebak oleh orang tua, namun selama ia menjalani pendidikan dunia penerbangan lambat laun menjadi suka.

Yang awalnya tidak tahu menahu dengan dunia penerbangan, setelah dijalani membuatnya jatuh cinta dengan dunia ini.

“Sebab menurut pengalaman yang sudah-sudah, kalau bekerja seperti ini jika kita tidak mencintai pekerjaan kita akan susah jalaninnya,” ujar wanita asal Bandung kelahiran Kupang ini.

Salah satu tantangan yang dihadapi petugas ATC di Bandara Lombok adalah belum memiliki radar.

Satu sisi ini tentu menyulitkan petugas ATC menjalankan tugasnya.

Namun akan semakin merasa sulit jika kekurangan ini tidak dijalankan dengan kecintaan.

Ia pun bersama rekan lain harus pintar-pintar mengimajinasikan posisi pesawat dalam otak masing-masing.

“Jadi kalau pilot report saya sudah di radius sekian, ya sudah kita awang-awang dalam otak. Oh posisinya disana, situasi trafficnya bagaimana yang aman, makanya itu kita harus mencintai profesi ini agar tidak menjadi beban yang berdampak stress,” beber Sinta yang sudah terjun 27 tahun sebagai ATC.

Diakui, tak mudah juga menjadi petugas ATC, sehingga harus digembleng sekian lama untuk menjalani tugas berat tersebut.

Sinta mengibaratkan, jika seorang pilot harus bertanggung jawab dengan ratusan penumpang dalam satu pesawat yang dikemudikan.

Maka petugas ATC harus bertanggung jawab terhadap sekian pesawat yang mengangkut ribuan lebih penumpang dalam satu waktu secara bersamaan.

“Kami bersyukur tugas berat ini dikerjakan secara berkesinambungan oleh adjustion unit di Bali yang menjadi kunci bagi kami agar pergerakan pesawat lebih teratur dan efisien,” ungkapnya. (lestari dewi/bersambung)


 

Editor : Kimda Farida
#atc #airnav indonesia #BIZAM #Lombok