LombokPost-Pemerintah daerah (Pemda) Lombok Tengah (Loteng) mulai mempersiapkan program perluasan lahan indeks pertanaman (IP) pada 2024 guna mendukung ketahanan pangan nasional.
Dari 52 ribu hektare (ha) luas tanam, sebanyak 24 ribu hektare (ha) lahan non irigasi dan pola tanam satu kali menjadi fokus program peningkatan IP di Gumi Tatas Tuhu Trasna.
“Sehingga lahan yang pola tanam padi, palawija ini yang kita tingkatkan melalui program pipanisasi menjadi padi, padi, palawija,” kata Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Loteng Muhammad Kamrin, Senin (29/4).
Program indeks pertanaman, kata Kamrin, tersebar pada 26 titik di 12 kecamatan se-Loteng. Dalam satu titik, luas lahan yang didukung dengan program pipanisasi ini mencapai 25 Ha.
“Lokasi program ini dekat dengan sumber mata air, sehingga bisa dialiri menggunakan pipanisasi,” kata mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Loteng itu.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan bisa mendukung penghentian impor beras sebab, Indonesia ditargetkan bisa menjadi negara pengekspor beras.
“Ini rencana dari Kementerian Pertanian. Sehingga kita melakukan kolaborasi dengan TNI-Polri untuk mendukung program IP 2024 ini,” ungkapnya.
Perlu diketahui, pada musim tanam pertama tahun ini sebanyak 26 ribu Ha lahan tanaman padi telah mulai dipanen.
Sehingga kebutuhan pangan bagi masyarakat Loteng saat ini dipastikan aman serta harga beras mulai turun.
Sementara itu, guna mengatasi kesulitan yang dihadapi petani dalam mengairi tanaman padi di sawah, Babinsa terjun langsung membantu petani membersihkan saluran irigasi satek hilir yang mampet, di Dusun Mengelok, Desa Batujai Kecamatan Praya Barat.
Mampetnya saluran irigasi ini merupakan hal yang sering dihadapi oleh petani saat musim tanam tiba.
Terkendala berbagai material tumpukan kayu, lumpur maupun sampah tak terurus, sehingga dapat mengakibatkan penurunan produksi dan kualitas hasil panen petani menjadi tidak maksimal.
“Kendala mampetnya saluran irigasi ini harus segera diatasi dan dibersihkan, agar aliran air ke sawah petani lancar tanpa hambatan,” ujar Babinsa Batujai Serka Lalu Suasta saat terjun langsung bersama petani membersihkan aliran irigasi.
Menurutnya, saluran irigasi satek hilir yang ada di Dusun Mengelok merupakan salah satu kunci saluran irigasi penyalur air untuk dua desa sekaligus yakni, Batujai dan Setanggor yang dikelola dan diawasi oleh seluruh kelompok petani yang ada di desa tersebut.
“Apabila saluran ini tersumbat sampah maka air akan terbuang habis, sementara dua desa seperti Penujak dan Setanggor tidak akan dapat mengolah lahan sawahnya karena bergantung pada irigasi satek hilir,” terangnya.
Dikatakan, peran Babinsa di wilayah dalam membantu masyarakat sangat penting, terutama dalam sektor pertanian dan masalah irigasi akan sangat berdampak pada kondisi sosial petani.
“Untuk itu kami selalu siap membantu masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah, termasuk masalah irigasi yang menjadi kunci utama keberhasilan pertanian di wilayah ini,” kata dia.
Terpenting, apa yang dilakukan ini dapat meningkatkan kesadaran petani dalam merawat infrastruktur irigasi.
Demi kelancaran produksi pertanian dan tidak terkendala lagi akan kebutuhan air.
“Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara rutin untuk menjaga kelancaran aliran air ke sawah dan meningkatkan produktivitas pertanian khususnya di wilayah Batujai,” tutup Suasta. (ewi)
Editor : Kimda Farida