LombokPost-Festival Budaya Betullak kembali digelar pemerintah Desa Lendang Ara, Kecamatan Kopang.
Salah satu rangkaiannya karnaval adat yang diikuti ratusan anak-anak hingga orang dewasa. Berikut ulasannya.
Ratusan warga dari Desa Lendang Ara, Kecamatan Kopang mendadak ramai dan menyemut di sepanjang pinggir jalan perbatasan hingga kantor desa setempat.
Untuk menyaksikan karnaval adat yang diikuti ratusan peserta, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dari desa se-Kecamatan Kopang.
Karnaval adat yang dimulai sejak pukul 14.00 Wita itu tampak diikuti dengan antusias oleh para peserta terutama anak-anak usia PAUD/TK hingga Sekolah Dasar (SD).
Langit biru tampak dihiasi awan mendung, membuat aspal jalan raya tidak panas mengenai kulit kaki mereka.
Dari kejauhan, suara gamelan gendang beleq mulai terdengar, pertanda rombongan karnaval adat akan tiba di lokasi utama acara.
Uniknya, gendang beleq ini dilakukan oleh anak-anak Sekolah Dasar Negeri Lendang Ara.
Bak pemain profesional para anak SD itu hanyut dalam unjuk kebolehannya dihadapan masyarakat.
Usai mereka beraksi, lanjut dengan rangkaian pembuka Festival Budaya Betullak yang membawa aneka sesaji di atas masing-masing kepala.
Tak mau ketinggalan, Tarian Riki Balasuji dari Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat disajikan oleh Sanggar Seni dan Tari Tie-Tie.
Festival Budaya Betullak digelar dari tanggal 14 hingga 16 Juni 2024. Festival tahun ini dimeriahkan dengan berbagai macam perlombaan, seperti lomba band tingkat SMA/MA se-Loteng, lomba tari kreasi tingkat SD/MI se-Kecamatan Kopang, dan lomba hadroh tingkat SMP/MTs se-Kecamatan Kopang, Janapria, Batukliang, dan Batukliang Utara.
Sebagai pembeda dari tahun sebelumnya, festival tahun ini diawali dengan karnaval budaya yang melibatkan masyarakat dari seluruh desa di Kecamatan Kopang.
Festival juga menghadirkan berbagai UMKM yang menjajakan makanan khas Loteng.
"Kegiatan ini bukan hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga untuk meningkatkan perekonomian masyarakat," ujar Kades Lendang Ara Ayunan.
Betullak, berasal dari kata Tullak dari bahasa Sasak artinya kembali. Betullak merupakan tradisional ritual yang dilakukan masyarakat desa Lendang Ara untuk menolak bala wabah penyakit.
Tradisi ini dilaksanakan pada waktu yang ditentukan, apabila ada wabah dan ciri-ciri dari akan datangnya wabah.
Wakil Bupati Loteng HM Nursiah mengatakan, ini salah satu upaya Pemdes Lendang Ara untuk menjaga dan melestarikan budaya Sasak.
Acara ini juga diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Gumi Tatas Tuhu Trasna.
"Kami mengapresiasi, ini cara pintar masyarakat kita menjaga seni dan melestarikan budaya. Terlebih menghadirkan tarian dari Sulawesi Barat. Semoga budaya ini memberikan manfaat dari sisi kesehatan, ekonomi, sosial dan budaya," tutupnya. (ewi/r11)
Editor : Kimda Farida