LombokPost-Persoalan rumitnya pemesanan harga kamar hotel hingga perubahan harga kamar yang melambung tinggi jelang MotoGP Mandalika 2024 viral di media sosial.
Bahkan, banyak pihak beranggapan akomodasi mahal menjadi salah satu penyebab kurang lakunya tiket pada ajang ketiga kali tersebut.
Pantauan Lombok Post, dalam unggahan akun pribadi @lucywiryono pada laman media sosial X, Lucy telah memesan paket kamar hotel pada 13 Agustus 2024 di aplikasi Agoda dengan harga Rp 6,8 juta untuk tiga malam.
Namun, pemesanannya tersebut harus menunggu persetujuan dari pihak hotel.
Lucy pun diminta menunggu selama 24 jam.
Ia juga telah melakukan charge kartu kredit sejumlah harga paket kamar hotel.
Jika tidak disetujui hotel maka Lucy harus menunggu 30 hari untuk dikembalikan uangnya.
Selanjutnya pada tanggal 14 Agustus 2024, pesanan kamar tersebut justru berubah harganya menjadi 8,2 juta.
Lantas, Lucy selanjutnya menyebutkan jika memesan kamar hotel di Mandalika adalah bidding bukan booking.
"Logikanya, yang booking di tanggal 13/08/2024 kaya gue.. ya mana mungkin diapprove lah. Kalo harga 14 Agustus 2024 lebih mahal. Ya pasti (hotel) ambil yang lebih mahal dong. Gak tau kalo besok dinaikin lagi. Semacam bidding jadinya, bukan booking," jelas Lucy dalam cuitannya.
Unggahan Lucy ini menuai ragam reaksi dari warganet.
Semuanya berkomentar dan mengeluhkan harga akomodasi yang melambung tinggi jelang MotoGP Mandalika 2024.
Bahkan, unggahan tersebut telah dibaca 1,2 juta orang, dibagikan oleh 1,1 ribu orang hingga dikomentari 294 warganet dengan ragam komentar.
Lucy Wiryono saat dikonfirmasi mengatakan, harga kamar saat MotoGP bukan hanya pada tahun 2024, bahkan pada MotoGP 2022 dan 2023 sudah melambung tinggi.
Lucy menjelaskan, dirinya bersama tim memang tidak booking kamar langsung atau direct ke hotel melainkan melalui aplikasi pemesanan.
"Harga kamar yang baik sudah bertahun-tahun memang sudah seperti itu. Dan memang sudah pasti begitu, dan memang harganya naik. Cuma saya rasa tidak ada satupun konsumen yang merasa nyaman kalau harganya tinggi (kamar hotel, red) untuk apapun ya," jelas Lucy, Kamis (5/9).
Lucy mengaku, tidak bisa juga menyalahkan pihak hotel.
Menurutnya, penyebab kenaikan harga kamar hotel adalah karena okupansi kamar hotel sepanjang tahun tidak stabil atau terkait persoalan supply dan demand.
Jika dibandingkan dengan Bali, maka sudah diketahui okupansi kamar hotelnya bahkan sudah overload wisatawan asing yang masuk ke Bali. Sehingga jika ada kenaikan harga kamar hotel, maka tidak terlalu jauh atau melonjak tinggi.
"Artinya apa? Ekosistem pariwisata di Bali jalan sepanjang tahun tidak hanya mengharapkan satu event tertentu. Kalau ada event tertentu misalnya liburan akhir tahun atau libur lebaran maka pasti naik, tapi kenaikannya masih normal," bebernya.
Lantas bagaimana dengan Lombok? Dikatakan, jika di Lombok kenaikan harga kamar hotel sangat luar biasa karena ada MotoGP dan tidak ada pilihan terutama hotel-hotel di dekat lingkar sirkuit.
"Tapi memang tidak bisa disalahkan hotelnya, tidak bisa kita bilang hotelnya harus punya nasionalisme demi Indonesia. Kalau saya punya Hotel di Lombok saya akan melakukan hal yang sama juga," sambung Lucy.
Lucy mengungkapkan, ekosistem pariwisata yang baik merupakan peran dari pemerintah terutama Pemprov NTB.
Pemprov NTB melalui dinas pariwisata ataupun dinas terkait lainnya perlu membuat event supaya tingkat okupasi hotel tinggi sehingga tidak hanya mengharapkan MotoGP semata.
"Saya juga punya teman di Lombok. Ya memang Lombok sepi kok kalau tidak ada MotoGP. Lombok itu sepi sekali, bukan destinasi utama orang untuk pergi ke Lombok untuk liburan," jelas Lucy.
Lucy menyebutkan, menonton MotoGP ke Mandalika memang perlu dipikirkan berkali-kali.
Bukan hanya harga kamar hotel yang mahal, tapi melihat harga tiket pesawat yang mahal juga membuat malas ke Lombok.
Indonesia merupakan negara yang besar, jika misalkan ada penggemar MotoGP yang tinggal di Aceh ingin menonton MotoGP, maka penerbangan dari Aceh ke Lombok jauh lebih mahal daripada Aceh ke Australia.
"Mending dia pergi ke Sepang Malaysia daripada ke Mandalika. Dan tentunya lebih murah juga. Jadi dari tiket pesawat juga perlu disoroti, bukan hanya hotel. Tiket pesawat juga mahal dari mana-mana pun ke Lombok itu sangat terbatas. Hanya ditambah kalau ada event seperti MotoGP, itupun naik lagi harganya," jelas Lucy. (ewi)
Editor : Kimda Farida