Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Bu Kus Katering, Spesialisasi Katering Presiden dan Tamu VVIP, Melayani Event-Event Besar di NTB

Lestari Dewi • Sabtu, 21 September 2024 | 10:00 WIB
Wagini owner Bu Kus Katering berfoto dengan aneka menu makanan yang disajikan di ruang VIP Deluxe, Sirkuit Internasional Mandalika, Kamis (19/9).
Wagini owner Bu Kus Katering berfoto dengan aneka menu makanan yang disajikan di ruang VIP Deluxe, Sirkuit Internasional Mandalika, Kamis (19/9).


Mobil katering bertuliskan Bu Kus Katering kerap wara wiri setiap kegiatan atau event yang digelar ITDC dan MGPA di Sirkuit Internasional Mandalika. Siapa sangka usaha makanan dan minuman ini diawali sebagai pedagang kaki lima di Taman Udayana, Mataram.

----------

WANITA paruh baya itu tampak sibuk, mengarahkan sejumlah staf perempuan berkebaya diposisi masing-masing.

Mereka bertugas menyajikan aneka menu makanan dan minuman yang akan disantap para tamu undangan dari si pemesan acara.

Dipastikan sudah siap, dengan ramah wanita itu mempersilakan para tamu undangan menikmati hidangan yang menggugah selera makan.

Dia adalah Wagini, pemilik dari Bu Kus Katering yang kerap menjadi langganan pihak InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) dalam menyiapkan menu makanan dan minuman disetiap kegiatan atau event yang digelar di VIP Room Sirkuit Internasional Mandalika.

Ditengah kesibukannya memastikan menu hidangan siap, Wagini menyempatkan waktu berbincang singkat dengan Lombok Post.

Wanita asal Pagutan, Kota Mataram ini menceritakan awal mula dirinya berbisnis katering adalah menjadi pedagang kaki lima (PKL) di Taman Udayana, Kota Mataram.

Awalnya, wanita kelahiran Banyuwangi, Jawa Tengah itu berprofesi sebagai pengacara.

Namun setelah menikah, alumnus Universitas Widyagaman, Malang ini harus mengikuti sang suami yang bertugas di Pulau Lombok.

Branding usaha diakui Wagini secara tidak sengaja. Nama Kus dalam tulisan Bu Kus Katering ternyata adalah nama sang suami, almarhum Kus Harianto.

Dirinya kerap dipanggil Bu Kus oleh tetangga dan sebagainya.

“Di tempat tinggal saya, yang dipanggil nama suaminya, bu Kus, bu Kus,” selorohnya mengawali.

Setelah di Lombok, untuk mengisi kesibukan dan hobi memasak, ia lebih memilih melakoni sebagai pengusaha kuliner.

Saat itu, dirinya belum fokus pada usaha katering melainkan menyajikan menu makanan untuk sarapan.

“Di Taman Udayana belum ada yang jual nasi Rawon, Bubur Ayam Bandung, Lontong Sayur. Sehingga untuk mewarnai kuliner disana, bekerja sama dengan teman, buka usaha disana sebagai PKL sekitar dua tahun,” terangnya.

Dalam kurun waktu itu, Wagini mengaku harus membuat daftar menu yang diminati konsumen setiap minggunya.

Hasilnya, menu Lontong Sayur dan Nasi Rawon memiliki peringkat tertinggi.

Melihat hal ini ia pun kembangkan menu lontong sayur khas miliknya. Pintu rejeki pun terbuka tatkala seorang pelanggan saya sering datang kelapaknya, tapi tidak mau turun dari mobil.

“Dia menikmati sarapan di dalam mobil,” kata Wagini.

Usut punya usut, pelanggannya adalah seorang direktur pengusaha motor ternama di Dasan Cermen, Kota Mataram.

Lantaran tertarik dan cocok dengan menu makanan yang dijual Wagini, direktur tersebut menawarkan Wardini untuk menyajikan menu makan siang di perusahaan.

“Dari sinilah merambah pegang makanan minuman setiap perusahaan ini ada event,” sebutnya.

Merintis usaha katering, diakui Wagini, tidak memiliki perangkat katering sama sekali.

Jika ada tawaran katering suatu event, ia pun menyewa peralatan. Setiap ada pesanan katering, tak luput dirinya menyematkan kartu nama setiap acara. Berharap satu dari sekian tamu undangan kecantol hatinya dengan hidangan yang disajikan.

“Masa sih tidak ada satu satu orang yang kecantol memesan disaya,” ujar Wagini yang mempekerjakan 20 karyawan-karyawati itu.

Setiap keuntungan dari pesanan katering, Wagini menyisihkan sebagian omsetnya untuk membeli perlengkapan sendiri.

Yang semula mencicil, kini bersyukur sudah lengkap. Ia ingat betul saat berjualan di Taman Udayana omset yang dikantongi hanya ratusan ribu rupiah.

Kini, seiring berjalannya waktu dan banjir pesanan menjadi ratusan juta rupiah.

“Seperti peralatan kambing guling, biasanya kan cuma digantung, dagingnya dingin. Nah dari omset ini, sudah punya alatnya sehingga kualitas menu kambing guling tetap terjaga,” beber ibu beranak dua ini.

Wagini mengaku, pengusaha katering lokal sebenarnya sangat siap dan mampu menangani makanan dan minuman setiap event yang digelar di Lombok, NTB.

Selama ada kemauan, kesempatan dan ketekunan.

Flashback event pertama olahraga WSBK di Sirkuit Mandalika, saat itu dirinya digandeng mantan General Manager Hotel Pullman Lombok Vincent.

Untuk menyajikan menu makanan sarapan, makan siang dan makan malam.

“Saat itu Pullman baru berdiri dan belum siap kitchen restorannya, dicarilah vendor lokal yang bisa pegang ketiga menu ini. Awalnya diragukan, ada tidak katering lokal mampu dan penuhi standar bintang lima, dan saya buktikan,” Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia NTB ini.

Dari pengalaman ini, ternyata setiap menu, pelayanan dan kualitas hidangan yang disajikan Wardini diperhatikan dan diamati.

Bahkan, lokasi rumah produksi di Bajur, Lobar pun dikunjungi apakah higienis atau tidak. Penyimpanan bahan baku bagaimana.

Hingga akhirnya mendapat kepercayaan menangani menu makanan setiap kunjungan RI 1 Presiden Joko Widodo.

“Insya Allah dalam kunjungan Bapak Presiden ke Sumbawa nanti, saya dihubungi untuk menyiapkan segala makanan minuman beliau. Kalau sudah Pak Jokowi datang, saya turun tangan langung tangani,” kata dia. (lestari dewi)

Editor : Kimda Farida
#katering #Lombok Tengah #pengusaha lokal #joko widodo #MGPA #NTB #ITDC #Presiden RI #lokal