LombokPost---Kondisi alam Desa Kuta dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika menjadi sorotan Portir Internasional Indonesia (PII).
”Kita sekarang berada di bawah ancaman bencana alam yang sangat serius. Rusaknya bentang alam dapat meningkatkan potensi terjadinya bencana alam, khususnya banjir dan tanah longsor,” terang Koordinator Portir Internasional Indonesia Maya Soeripto pada wartawan belum lama ini.
Menurutnya, kondisi alam di Kuta dan Mandalika makin ke sini semakin parah.
Penebangan liar sudah tidak bisa lagi ditertibkan dan dikendalikan.
Alih fungsi lahan besar-besaran sudah terjadi dan tidak bisa dibendung.
Terlebih, ulah para investor yang sesuka hati membangun tanpa mempertimbangkan keseimbangan kondisi alam.
Termasuk masyarakat setempat. Sisi lainnya, pemerintah terkesan tidak sanggup mengatasi persoalan yang terjadi.
“Jadi, klop. Alam kita rusak parah,” cetusnya.
Tidak hanya banjir dan tanah longsor saat musim hujan. Tapi saat musim kemarau sekarang masyarakat juga mengalami kesulitan air bersih.
“Infrastruktur akan rusak oleh lumpur yang mengalir dari bukit yang gundul ke jalan-jalan umum. Begitu juga dengan drainase pun akan mengalami kerusakan,” ujar Maya.
Jika hal ini sudah terjadi, maka semua pihak akan sangat dirugikan.
Negara juga rugi lantaran fasilitas yang sudah dibangun dengan anggaran besar rusak terdampak kerusakan lingkungan.
Dalam jangka waktu panjang, bisa berdampak pada perekonomian daerah.
Guna mencegah kondisi semakin parah, pemerintah harus segera bersikap dengan melakukan upaya-upaya pencegahan dan penyelamatan lingkungan secara massif.
“ITDC selaku pengelola kawasan The Mandalika perannya juga sangat diharapkan untuk bisa membantu langkah-langkah restorasi lingkungan kawasan sekitar The Mandalika,” paparnya.
Terpisah, Plt Asisten II Setda Loteng Lendek Jayadi membenarkan kondisi alam di KEK Mandalika.
Bila mengacu aturan pembangunan harus berbasis lingkungan, artinya pembangunan tidak boleh merusak lingkungan.
”Sebagai investor dan masyarakat diharapkan berikan perhatian terhadap kebijakan ini karena lingkungan juga yang memberikan keberlanjutan alam sekitar, investasi dipastikan aman karena alam tidak akan mengganggu dari bencana yang ditimbulkan,” kata dia.
Menurutnya, persoalan ini terletak pada bagaimana menerapkan aturan yang sudah ada.
Manusia yang mesti beradaptasi dengan lingkungan, bukan alam yang diganggu manusia untuk pembangunan.
“Saya kira tidak boleh ada pembangunan yang dapat mengurangi populasi pepohonan, kita hadir dengan menambahkan populasi pepohonan. Gunung yang ada di sana harus dijadikan paru-paru Mandalika,” sebut mantan kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Loteng ini. (ewi/r11)
Editor : Kimda Farida