LombokPost---Kementerian Perindustrian bersama Pemda Lombok Tengah (Loteng) terus berupaya memperkuat Industri Kecil Makanan dan Minuman (IKMA) menguasai pasar dalam dan luar negeri.
Ini dilakukan untuk menekan ketergantungan pada produk impor sekaligus membuka peluang pasar bagi pelaku IKMA.
Serta semakin mendorong masyarakat untuk bangga menggunakan produk buatan lokal.
”Para pelaku IKMA ini diberikan pendampingan ketika mengekspor, mengetahui alur dan prosesnya, syarat produk dan kualitas seperti apa yang diinginkan pasar luar negeri. Terpenting berkelanjutan jika mau produk ini kita ekspor,” ungkap Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Loteng Baiq Yuliana Safriana di sela kegiatan Pendampingan IKMA Kemitraan Orientasi Ekspor Tahun 2024, Minggu (27/10).
Diharapkan pada tahap keberlanjutan ini, kata dia, pelaku IKMA mampu memenuhi permintaan pasar yang berkelanjutan.
Agar tidak mengecewakan pembeli dari luar, maka harus benar-benar memastikan ketersediaan bahan baku produk.
Yuliana mencontohkan, pada kegiatan Trade Expo belum lama ini sudah ada ada permintaan ekspor tapioka ke China dengan jumlah belasan ton.
Selain itu, sebelumnya Indonesia mengimpor tapioka dari Ukraina dan melihat kondisi pasar global sekarang maka Indonesia harus bertahan menyediakan bahan baku dan mengolah produknya.
”Dari kualitas tapioka kita ternyata tidak kalah dengan luar, hanya saja daerah masih belum siap dari sisi bahan baku. Untuk pasar lokal saja kita belum mampu penuhi, apalagi untuk ekspor. Namun ke depannya mau tidak mau, kita harus sudah siap tembus pasar ekspor,” jelasnya.
Pendampingan yang digelar selama tiga hari itu, kata dia, diprioritaskan bagi pelaku IKMA yang sudah siap go internasional.
Antara lain, produk olahan jahe gulung milik Yosi Eka Kurniawati dan sorgum milik Maemunah sudah siap memenuhi permintaan pasar ke New Zealand.
Sementara itu, Yosi Eka Kurniawati mengatakan, melihat ada permintaan pasar ekspor ke New Zealand dan Malaysia maka harus dipastikan kesiapan dan kapasitas produksi olahan pangan jahe gulung miliknya.
“Bahan baku dan pengemasan ini sudah kami persiapkan, sementara legalitas dan sebagainya Alhamdulillah telah terpenuhi,” tambahnya.
Pihaknya sudah mengirim sampel produk. Sebagai tahap awal akan mengirim sebanyak 400 toples.
Melalui pendampingan yang telah diberikan diharapkan bisa menangani sendiri tanpa harus melalui pihak lain.
”Karena kami belum paham dokumen apa saja yang disiapkan makanya gunakan pihak lain, setelah melalui pendampingan ini kami jadi paham. Semoga suatu saat bisa langsung kirim sendiri,” terang Yosi asal Desa Bonjeruk itu.
Senada, Maemunah pelaku olahan pangan Sorgum menambahkan, dari pendampingan ini mendorong mereka untuk mau tidak mau siap menghadapi pasar ekspor.
Salah satu syaratnya adalah ada pengujian nutrisi produk pangan dan kemasan produk.
“Untuk kemasan ini, produk sorgum diminta kemasan standing pouch full colour dan ini tidak ada di NTB jadi harus pesan dari luar daerah,” kata dia. (ewi/r11)
Editor : Kimda Farida