LombokPost-Pelayanan kesehatan di Lombok Tengah (Loteng) belum merata.
Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng bahkan menyebut dibutuhkan tiga rumah sakit tipe D serta 6 puskesmas, agar penanganan dan pelayanan kesehatan bisa semakin mudah dijangkau masyarakat.
”RSUD Praya overload tangani pasien. Untuk perluasan lahan, butuh waktu lagi, meski saat ini sudah jadi rumah sakit tipe B,” kata Kepala Dikes Loteng dr Suardi pada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (2/1).
Untuk rumah sakit tipe D, kata dia, belum ada sama sekali di Loteng. Dikes sendiri berupaya mendorong Puskesmas Kopang untuk bisa naik kelas menjadi rumah sakit tipe D.
Sehingga masyarakat di bagian utara bisa lebih cepat mendapat pelayanan kesehatan. Sementara di wilayah selatan sudah ada Rumah Sakit Mandalika.
Tidak adanya fasilitas pelayanan kesehatan yang prima, membuat warga Loteng bagian utara memilih berobat ke Lombok Timur (Lotim).
“Rencana peningkatan puskesmas Kopang jadi rumah sakit tipe D ini tahun 2026 dengan menambah jumlah tempat tidur menjadi 50, ketersediaan dokter spesialis kandungan, anak, penyakit dalam dan bedah,” terangnya.
Untuk peningkatan tipe tersebut, anggarannya akan diambil dari APBD 2026 sebesar Rp 50 miliar. Adapun alat kesehatannya, pemda akan meminta bantuan pemerintah pusat.
”Pemerintah pusat sudah sampaikan, setelah ini jadi bisa (bantu) untuk alat-alat kesehatannya,” beber Suardi.
Menurutnya, keberadaan rumah sakit tipe D juga sangat diperlukan dan harus dibangun. Guna mengatasi kondisi overload di RSUD Praya.
Loteng membutuhkan tiga rumah sakit tipe D yang tersebar di wilayah timur, utara dan perbatasan Lombok Barat.
”Lotim saja sudah punya empat rumah sakit tipe D, kita satu pun belum ada,” cetusnya.
Selain rumah sakit, kata Suardi, Loteng juga membutuhkan tambahan enam gedung puskesmas. Kebutuhan ini untuk menjangkau pelayanan kesehatan masyarakat di setiap desa.
Sayangnya untuk membangun puskesmas ini masih terhalang pembangunan puskesmas prototype. Artinya, dari total 29 puskesmas sudah harus menjadi puskesmas prototype.
”Ada delapan puskesmas yang belum prototype, tahun ini ada tiga yang akan prototype yaitu puskesmas Muncan, Pengadang dan Pengembur dengan nilai Rp 7 miliar. Sedangkan yang belum sisa Langko, Wajegeseng, Praya, Tanak Beak dan Batujai,” kata pria asal Lotim ini.
Sebelumnya. Kepala Bapperida Loteng Lalu Wiranata menyebut, pemda segera memperluas area RSUD Praya.
Diperlukan lahan tambahan yang digunakan sebagai lahan parkir, penataan gedung pelayanan agar lebih layak menjadi rumah sakit tipe B.
”Apakah bersumber dari APBD, APBN atau biaya yang lain. Namun ini belum ada pembahasan lebih lanjut, yang jelas Bupati, Wabup dan Sekda sudah setuju perluas lahan,” terangnya.
Saat ini, APBD Loteng 2025 masih fokus pengembangan gedung lantai tiga di RSUD Praya.
Artinya, masih cukup jauh aksi perluasan lahan rumah sakit seperti yang diharapkan.
“Kemungkinan anggaran perluasan lahan masuk dalam APBD 2026, tapi jika memungkinkan bersumber dari biaya lain berupa utang di tahun 2025 maka bisa dipercepat. Kalau berani RSUD Praya berutang,” ujarnya. (ewi/r11)
Editor : Kimda Farida