Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Viral Warga Sakit Digotong Ramai-ramai, Jalan Rusak di Batu Jangkih Loteng Cocok untuk “Mobil Offroad”

nur cahaya • Kamis, 20 Februari 2025 | 13:35 WIB

 

SULIT DIAKSES: Jalan desa yang rusak parah di Dusun Pemoles, Desa Batu Jangkih, Kecamatan Praya Barat Daya, Loteng, Selasa (18/2). Jalan ini mendadak viral pasca video warga menandu yang sakit.
SULIT DIAKSES: Jalan desa yang rusak parah di Dusun Pemoles, Desa Batu Jangkih, Kecamatan Praya Barat Daya, Loteng, Selasa (18/2). Jalan ini mendadak viral pasca video warga menandu yang sakit.
 

LombokPost-Viral video di media sosial warga beramai-ramai menggotong tetangganya yang sakit parah di Dusun Pemoles, Desa Batu Jangkih, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah (Loteng).

Itu dilakukan karena kondisi jalan rusak parah tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.

Tampak dalam video, seorang wanita bernama Sarni usia 50 tahun digotong kerabat bergantian saat melintasi jalan sepanjang dua kilometer (km).

“Kami terpaksa menandu karena tidak bisa angkut warga pakai mobil maupun motor,” ungkap Khairul Anwar yang mengunggah video itu pada Lombok Post, Selasa (18/2).

Saking parahnya kondisi jalan, warga menyebutnya sebagai “jalan tengkorak” sebab didominasi bebatuan.

Pengalaman menggotong warga ternyata bukan yang pertama.

Warga juga pernah menggotong ibu hamil yang hendak melahirkan hingga pemulangan jenazah warga.

“Kami berharap tidak ada lagi warga kami yang digotong-gotong,” cetusnya.

Pria yang juga pengajar di sekolah dasar itu mengaku, rusaknya jalan sudah berlangsung cukup lama.

Memang jalan ini bukan satu-satunya akses, namun jalan alternatif ke selatan yang harus dilintasi melalui sungai sedang dalam perbaikan jembatan.

Saat itu, jika membawa warga yang sakit melalui jalan alternatif, situasi air sungai sedang meluap.

“Kalau mau nekat terabas sungai, airnya sampai betis orag dewasa,” beber Khairul.

Ia menyebut, jalan desa pernah diperbaiki namun sebatas rabat dari batas jalan raya hotmik.

Dari panjang jalan rabat dua km ini, satu km rusak parah hingga ke utara.

Ketika akan diperbaiki yang dipertanyakan lebih dahulu adalah status jalan.

“Memang ini jalan pelosok artinya jalan dusun milik desa, tapi kami ini kan warga NKRI seharusnya tidak ada pertanyaan status jalan. Pemerintah harus peduli pada masyarakat Pemoles,” kata mantan kepala dusun itu.

Tidak hanya soal kesehatan masyarakat, akibat jalan rusak juga membuat harga panen milik warga lebih murah.

Sebab ada biaya operasional untuk mengangkut hasil pertanian.

“Kami ada  buah kelapa, padi tapi semua dijual murah dengan alasan biaya angkut. Jika jalan ini diperbaiki minimal harga panen kami sama dengan wilayah sekitar hotmik,” terang Khairul.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Loteng Lalu Rahadian yang dikonfirmasi menjawab singkat.

“Itu jalan statusnya milik desa,” ujarnya.

Sebelumnya, anggota DPRD Loteng Ahmad Syamsul Hadi berjanji akan mengusulkan ke Pemda Loteng agar memiliki skala prioritas perbaikan jalan.

Soal jalan misalnya, jalan rusak dan belum terurus disebabkan masih banyak jalan-jalan desa belum naik kelas menjadi jalan kabupaten dan ini masih stagnan.

“Saat monitoring pemekaran desa, saya keliling dan melihat pembangunan infrastruktur jalan di sana masih kurang,” cetus politisi NasDem ini. (ewi/r6)

 

Editor : Kimda Farida
#rabat #warga #operasional #Pembangunan #sekolah dasar #Infrastruktur #pemerintah #nkri #video