Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Viral Video Keluarga Pasien Arogansi pada Dokter RSUD Praya

Lestari Dewi • Sabtu, 1 Maret 2025 | 08:45 WIB
Tampak seorang keluarga pasien mendaftarkan keluarganya yang sakit pada bagian pendaftaran bagi pasien rawat jalan di RSUD Praya, Loteng, Rabu (26/2).
Tampak seorang keluarga pasien mendaftarkan keluarganya yang sakit pada bagian pendaftaran bagi pasien rawat jalan di RSUD Praya, Loteng, Rabu (26/2).

Lombok Post-Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya masih mengedepankan jalur islah atau kekeluargaan, namun tak menutup kemungkinan menempuh jalur hukum.

Pasca beredarnya video seorang pria salah satu keluarga pasien yang marah-marah terhadap dokter umum di rumah sakit tersebut.

“Kami masih telaah dan sudah konsultasi pada praktisi hukum apakah perlu ke ranah hukum atau bagaimana. Sementara ini kami masih menganut ranah islah kekeluargaan walau mungkin nanti ada tuntutan karena kejadian ini sudah viral di media sosial,” kata Direktur RSUD Praya dr Mamang Bagiansah, Rabu (26/2).

Diketahui, unggahan video dilampirkan keterangan dengan kata-kata yang dianggap merendahkan profesi dokter.

Walau belakangan pria tersebut mengedit keterangan itu. Namun, hal ini dianggap cukup mencederai profesi dokter.

“Narasi yang dibuat diawal lalu diubah, yang mana profesi dokter disetarakan dengan tanda kutip mohon maaf, iblis. Jadi mohon maaf kata ini cukup mencederai profesi kami sebagai dokter. Artinya seburuk apa pun kami, saya kira tidak pantaslah disetarakan dengan kata tersebut,” terangnya.

Ia menjelaskan, pasca kejadian keluarga pasien marah-marah itu pihak manajemen segera melacak dan mencari tahu penyebab kejadian.

Pihaknya sudah menanyakan langsung dengan dr Herry selaku dokter umum, diduga pria dalam video membawa orang tuanya untuk diperiksa karena diklaim kondisi pasien kritis.

“Sesuai standar operasional kami, dokter dan perawat melakukan penanganan medis. Mulai dari anamnesis, seperti apa keluhannya, bagaimana riwayat penyakit dan sebagainya. Dalam proses menanyakan ini, keluarga pasien minta jangan ditanya lama-lama segera diperiksa,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Loteng ini.

Sebagai informasi, anamnesis adalah wawancara yang dilakukan oleh dokter atau tenaga medis untuk mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan pasien. 

Anamnesis merupakan salah satu langkah penting dalam proses diagnosis dan pengobatan pasien. “Ini memang wajib dilakukan dokter dan perawat,” cetusnya.

Adapun pasien yang diduga berasal dari Desa Pengembur,, Kecamatan Pujut ini dibawa ke rumah sakit lain. Tidak lanjut diperiksa tenaga kesehatan RSUD Praya.

“Tidak jadi dirawat di sini, pihak keluarga minta dicabut infusnya dan dibawa ke tempat lain,” kata dokter Mamang.

Sebelumnya, video arogansi keluarga pasien kepada salah satu dokter umum di RSUD Praya viral.

Diduga keluarga pasien marah-marah akibat sang dokter terlalu banyak bertanya terkait kondisi pasien. Sementara pasien dalam kondisi kritis.

Dalam video, tampak pria yang mengaku bernama Ruslan itu mengenakan jaket hitam dan bersarung hijau.

“Saya ajarin, kalau jadi dokter kita harus mengerti kondisi keluarga pasien. Jangan malah dilawan (dengan, red) kata keras-keras, sudah spuluh kali pertanyaanmu,” katanya bernada kesal sembari menghentakkan tumpukan kertas di atas meja.

Terpisah, Ruslan yang dikonfirmasi Koran ini menyebut, dirinya dan keluarga sudah bersilaturahmi dan bertemu langsung dengan pimpinan RSUD Praya.

Ia meminta maaf sebesar-besarnya dan mengaku tidak ada niat untuk membuat konten dengan merekam aksi marah-marah.

“Itu hanya spontan dan saya juga tidak menyangka seviral itu, saya tidak bermaksud melecehkan profesi dokter. Alhamdulillah sudah diselesaikan dengan kekeluargaan,” singkatnya. (ewi)

Editor : Rury Anjas Andita
#Lombok Tengah #marah-marah #Dokter #RSUD Praya #keluarga pasien #Arogansi