Rian Pratama sukses budidayakan sayuran hidroponik di lahan tempat tinggalnya. Warga Desa Kuta, Kecamatan Pujut itu raup cuan hingga jutaan rupiah dari usahanya tersebut.
---------
HAWA segar dan menyejukkan sangat terasa ketika melintasi perbukitan di Dusun Lenser, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng). Tampak sebuah greenhouse berwarna putih itu berada tepat di tengah-tengah perbukitan. Hamparan tanaman sayuran selada, bak permadani hijau memanjakan mata.
Senyum sumringah dan bersahabat dari Rian Pratama menyambut kedatangan Koran ini. Dia adalah seorang pemuda asal dusun setempat yang sukses membudidayakan sayuran dengan sistem hidroponik. Di atas lahan ukuran tujuh kali sepuluh meter persegi itu, sayuran selada tumbuh subur di atas media tanam yang tak jauh dari kediamannya.
“Awal saya mulai pengembangan sekitar bulan Agustus tahun 2024, saya saat itu sudah selesai menuntaskan pendidikan di jurusan Teknik Lingkungan di Universitas Mataram,” kata Rian mengawali ceritanya, Jumat (28/2).
Dalam mengembangkan itu, dia membuat media tanam skala kecil lebih dulu untuk percobaan. Guna mengetahui apa saja potensi kendala yang akan dihadapi. Jika dulu hanya beberapa lubang tanam, setelah percobaan sukses, kini miliki 1.040 lubang tanam.
Pada setiap media tanam, Rian bisa menghasilkan 72 Kilogram (Kg) sayuran segar yang dijual seharga Rp 35 ribu per Kg. Sayuran segar ini dijual Rian ke sejumlah restoran maupun tempat makan yang ada di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Dari hasil penjualan itu, ia bisa meraup keuntungan hingga Rp 7 juta per bulan.
“Setiap hari panen, tapi kebanyakan pelanggan ambil sayuran per dua hingga empat hari, semakin ramai pengunjung restoran, ya semakin ramai pesan sayuran disini,” terang pria usia 25 tahun itu.
Rian tak menampik, merintis usaha ini berbekal dari pelatihan yang kerap diikuti dan diberikan oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC). Dirinya dibantu sejak bulan November tahun lalu, bantuan pun berdasarkan permintaan para remaja di Desa Kuta.
“Selain pelatihan, kami juga diberikan pengetahuan dari beberapa dosen cara berhidroponik yang benar, hingga bantuan berupa greenhouse dan pemasaran,” kata Rian.
Sebagai generasi milenial, terjun ke sektor pertanian adalah hal yang menjanjikan. Dirinya tak ingin mengikuti warga kebanyakan yang menjual tanah di Desa Kuta, Pujut. “Saya memiliki prinsip bila masih bisa menjual hasil tanah, kenapa harus jual tanah. Meski tanah yang kita miliki itu terbatas, ada sistem-sistem yang dapat kita terapkan seperti cara hidroponik ini,” ungkapnya.
Ia juga bertekad menepis isu bahwa tidak selamanya bertani itu kotor. Rian juga mengajak para generasi muda khususnya di Kuta Mandalika untuk menjadi petani milenial. Dengan memanfaatkan lahan sekitar sebagai lokasi untuk menanam.
“Terpenting pekerjaan ini kita tanpa tekanan, pertanian itu enak kok. Siapa bilang kita tidak bisa pakai sepatu, kemeja atau gagah-gagahan,” selorohnya. (lestari dewi)
Editor : Jelo Sangaji