Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Syarif Hidayatullah, Owner Pasar Bambu Bonjeruk soal Ayam Merangkat yang Biasa Disajikan Saat Pernikahan Tradisional Suku Sasak

Lestari Dewi • Jumat, 7 Maret 2025 | 20:34 WIB
Inilah penampilan sajian Ayam Merangkat khas Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Loteng, belum lama ini.
Inilah penampilan sajian Ayam Merangkat khas Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Loteng, belum lama ini.

Salah satu menu andalan khas Desa Bonjeruk adalah Ayam Merangkat. Menu ini disajikan saat ada pernikahan tradisional suku Sasak di desa tersebut. Namun kini bisa dinikmati semua orang di Pasar Bambu dan Warung Bambu 2 Bonjeruk. Berikut ulasannya.

---------

NAMPAN dari anyaman bambu dijunjung seorang wanita berpakaian adat lambung suku Sasak. Walau tertutup tudung saji tradisional berwarna merah, bisa ditebak isi dalam nampan adalah Ayam Merangkat. Menu andalan khas Desa Bonjeruk yang disajikan di Pasar Bambu maupun Warung Bambu 2 Bonjeruk milik Syarif Hidayatullah.

Ayam Merangkat ini bisa dibilang sangat mirip dengan ayam bakar pada umumnya. Namun, setelah dicicipi, Ayam Merangkat memiliki rasa serta tekstur tersendiri yang luar biasa nikmat. Ayam Merangkat memiliki cita rasa pedas dan kaya akan bumbu rempah-rempah yang berlimpah.

Dayat akrab disapa menuturkan, kunci dari kenikmatan ayam merangkat terletak pada bahan baku utamanya. Ayam Merangkat menggunakan ayam kampung sebagai bahan baku utama dan disajikan dengan cara disuwir kasar agar bumbu yang diaplikasikan dapat terserap secara merata.

Selain itu, Ayam Merangkat yang banderol Rp 135 ribu ini juga disuguhkan bersama beberapa menu lain. Mulai dari sayur daun kelor dan jagung manis, beberuk terong, tempe goreng, dendeng, ayam goreng asam. hingga ikan nila. Menariknya, menu pendamping yang disajikan turut memiliki cita rasa pedas layaknya Ayam Merangkat.

Menilik kisah Ayam Merangkat, Dayat mengaku, kuliner satu ini sejatinya hanya dapat ditemui bila ada salah satu warga yang melaksanakan pernikahan. Namun, bukan sembarang pernikahan, melainkan pernikahan yang dilakukan menggunakan adat tradisional suku Sasak yang bernama Merariq.

Tradisi merariq sudah ada sejak lama dan diturunkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Tradisi merariq merupakan bukti keseriusan pihak mempelai pria kepada sang calon mempelai wanita.

“Merariq atau melarikan sang calon mempelai wanita dilakukan secara diam-diam pada malam hari. Biasanya kedua sejoli ini akan berjanjian di hari dan waktu yang sudah ditentukan. Nantinya, keluarga dari mempelai pria akan datang menjemput sang pujaan hati di kediamannya dan membawa kabur calon mempelai wanita tersebut selama tiga hari,” beber Dayat.

Setelah melarikan calon mempelai wanita, tokoh masyarakat setempat akan mempertemukan kedua keluarga secara resmi untuk membicarakan persiapan pernikahan. Kalau kedua keluarga sudah bertemu dan sepakat ke jenjang pernikahan, kata Dayat, maka ada acara makan-makan yang dihadiri oleh masyarakat sekitar.

“Pada momen ini, barulah ayam merangkat disajikan untuk dikonsumsi bersama-sama. Kenapa rasanya pedas, karena yang makan ayam merangkat sangat banyak bisa mencapai empat kampung,” tutup dia. (lestari dewi/r6)

 

Editor : Prihadi Zoldic
#ayam #Desa Bonjeruk