Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Ahli Gizi Siapkan MBG di Loteng, Sempat Kelabakan dan Menginap di Dapur Umum

nur cahaya • Kamis, 13 Maret 2025 | 17:40 WIB

 

KIRI KE KANAN: Farida, Wulandari, dan Aulia menceritakan kerja mereka saat mempersiapkan paket MBG kepada anak-anak sekolah di Loteng, Selasa (11/3).
KIRI KE KANAN: Farida, Wulandari, dan Aulia menceritakan kerja mereka saat mempersiapkan paket MBG kepada anak-anak sekolah di Loteng, Selasa (11/3).
  

 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran mulai dilaksanakan di Gumi Tatas Tuhu Trasna.

Hal ini memberi pengalaman tersendiri bagi Farida, Wulandari, dan Aulia.

------------------

GERBANG berbahan spandek berwarna abu-abu itu tertutup rapat. Nyaris tidak ada aktivitas kegiatan tatkala Lombok Post berkunjung menjelang siang hari di bulan Ramadan.

Di atas gerbang tampak spanduk biru bertuliskan selamat datang di Unit Pelayanan Program Makan Bergizi Gratis di Dusun Bodak, Desa Montong Terep, Kecamatan Praya.

Didampingi Serma Imran Yasin selaku babinsa dan Hamdan selaku Bbhabinkamtibmas setempat, koran ini mengucapkan salam. Tak lama pintu gerbang pun dibuka dari dalam oleh seorang wanita.

Namanya Wulandari. Ia mempersilakan masuk ke area gedung Dapur Umum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) UD Anisa Catering. Turut menyambut dua wanita lainnya Farida dan Aulia yang dengan ramah memperkenalkan diri sebagai ahli gizi di dapur umum ini.

Dua mobil boks tampak terparkir di halaman gedung. Menandakan mobil telah bekerja mengantarkan ribuan paket makan MBG yang disulap menjadi makanan instan selama bulan puasa ini.

Mumpung bulan puasa, ketiganya bisa dikatakan beristirahat sejenak.

Melepaskan penat beberapa waktu lalu tatkala mempersiapkan paket makanan MBG kepada ribuan anak sekolah.

Sebagai kepala SPPG UD Anisa Catering, Wulandari membeberkan pengalamannya mengelola dapur gizi.

Dapur ini memiliki 50 karyawan yang berasal dari daerah sekitar. Antara lain, kepala SPPG, akuntan, ahli gizi dan 47 karyawan.

Para karyawan ini dibagi dalam beberapa kelompok tugas.

“Masak ada 10 (orang, Red), pendistribusian, driver, persiapan bahan makanan, sampai pencucian alat makan,” jelasnya.

Saat kali pertama beroperasi, kata Wulan kegiatan dimulai dengan melakukan persiapan bahan makanan pada pukul 19.00 Wita hingga 02.00 Wita esok harinya.

Selanjutnya, proses memasak dilakukan sampai 03.00 hingga 08.00 pagi. Setelah makanan matang, maka dilanjutkan dengan pemorsian dan pengemasan.

“Nah di sini ini riweuhnya (repot, Red) mungkin karena baru pertama kali ya. Ada pemorsian, dari jam 03.00 atau 04.00 sampai pagi, sampai selesai packingan. Awal packing ini agak kurang teratur,” ungkapnya.

Selanjutnya, petugas pendistribusian membagikan makanan bergizi gratis ke sekolah yang sudah ditentukan.

Setelah itu, alat makan yang dibawa kembali akan dicuci oleh petugas pencucian yang bekerja mulai pukul 12.00 Wita.

Farida menambahkan, dalam proses awal-awal adanya kendala ditemui dalam program ini.

Hal ini disebabkan oleh target produksi mereka yang tidak bertahap, melainkan langsung mencapai tiga ribu porsi lebih.

Takut ada kesalahan, dirinya sampai rela menginap di dapur umum.

“Karena sebagai ahli gizi, saya harus memantau proses masak makanannya, lanjut lagi pantau packingan hingga pagi. Lambat laun bisa sedikit longgar, tidak lagi menginap,” seloroh wanita lulusan Poltekes ini.

Selain tenaga, masalah lain yang dihadapi terkait peralatan yang digunakan.

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk menyajikan MBG sebanyak yang ditargetkan.

Menu makanan pun turut diatur sedemikian rupa dalam jangka waktu satu bulan.

Hal ini dimaksudkan agar menu makanan yang disajikan tidak sama tiap harinya.

Aulia menambahkan, dalam proses pendistribusiannya para siswa-siswi begitu antusias dan gembira saat menyambut kedatangan petugas pendistribusian.

Hal yang sama pun tercermin ketika sekolah lainnya mengetahui bahwa mereka menjadi target selanjutnya dari program ini.

Di sisi lain, ketiganya berharap ada beberapa dapur lain di Gumi Tatas Tuhu Trasna.

“Agar semua sekolah itu bisa mendapatkan program ini. Supaya gizinya terpenuhi setiap harinya, saat ini baru ada delapan dapur umum,” tutup mereka. (Lestari Dewi/r6)

Editor : Kimda Farida
#SPPG #makan #bergizi #Mbg #Sekolah #dapur umum #gratis #mobil