LombokPost-Bupati dan Wakil Bupati Lombok Tengah (Loteng) Lalu Pathul Bahri dan HM Nursiah dianugerahi gelar Pengerakse Gumi Tastura.
Diberikan oleh para tokoh adat, Majelis Adat Provinsi NTB dan Majelis Adat Loteng.
Penghargaan ini sebagai bentuk kehormatan dan pengingat amanah agar Pathul-Nursiah senantiasa menjaga, melestarikan, dan membangun Gumi Tastura.
“Kami sadari gelar Pengerakse Gumi Tastura ini bukanlah simbol semata, namun merupakan panggilan untuk menjadi penggerak harmoni, pengayom budaya, dan pelindung nilai-nilai luhur masyarakat Loteng,” ungkap Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri dalam perayaan Lebaran Topat di halaman kantor bupati, Senin (7/4).
Sebab itu, ia mengajak seluruh pihak untuk menjaga dan melestarikan adat dan budaya warisan leluhur.
Sembari tetap bergerak maju dalam pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
“Mari kita jadikan Loteng sebagai daerah yang mandiri, berdaya saing, sejahtera dan harmoni atau masmirah,” ucap Miq Pathul akrab disapa.
Pada kesempatan itu, dirinya mengaku baru kali ini bersama Wabup Loteng HM Nursiah berpakaian adat lengkap pada perayaan Lebaran Topat.
Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Contoh, Sapuq yang kami kenakan melambangkan lurusnya Lomboq bukan Lombok. Kenapa dikatakan Lomboq karena percaya akan Tuhan Yang Maha Kuasa, maka jangan berpikir enteng pada makna sapuq yang kita kenakan,” terangnya.
Ia pun meminta khusus pada para tokoh adat dalam majelis adat untuk getol mensosialisasikan makna-makna perlengkapan pakaian adat Sasak.
Pakaian adat yang merupakan budaya ini adalah ekonomi.
Lantaran mampu menciptakan berbagai hasil kerajinan yang menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Budaya itu ekonomi bos! Perlengkapan ini tidak sembarangan dibuat oleh masyarakat yang dikenakan para tokoh adat dan masyarakat umum. Sehingga menggerakkan ekonomi, mulai dari penyesek kain tenun, pandai besi dan sebagainya,” tegas mantan ketua DPRD Loteng ini.
Sebagai bentuk dukungan Pemda Loteng pada masyarakat perajin ini, kata dia, setiap tanggal 15 setiap bulan diwajibkan mengenakan pakaian adat Sasak lengkap.
“Ini sudah dirasakan langsung oleh perajin-perajin kita,” cetus bupati. (ewi/r6)
Editor : Kimda Farida