LombokPost – Mendekati usia seabad, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) mulai berbenah dan kembali ke koridor Tri PERTI. Yaitu, bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.
Sempat hidup dengan kemunculan madrasah di mana-mana kemudian meredup. Tidak ingin terus berlanjut, maka keluarga besar PERTI berkomitmen bergabung kembali dan membesarkan organisasi.
Ketua Umum PERTI H Syarfi Hutauruk mengatakan, tahun 2025 menandai satu momentum bersejarah yang penuh makna bagi keluarga besar PERTI. Sebuah organisasi yang telah menapaki jalan panjang perjuangan keislaman, keulamaan, dan kebangsaan sejak didirikan pada 5 Mei 1928. Kini,
PERTI memasuki usia ke-97 tahun sebuah usia matang bagi organisasi yang tidak lahir dalam ruang hampa, tetapi lahir dari denyut nurani ulama dan umat yang bergelut menghadapi penjajahan, kebodohan, dan keterbelakangan.
“Tiga tahun lagi usia kami seabad, keluarga besar PERTI komitmen untuk kembali bersama, tidak terpecah pada sejumlah partai politik agar tidak lagi PERTI ini tertinggal,” ucapnya saat konferensi pers Milad PERTI ke-97 di Yatofa Bodak, Lombok Tengah (Loteng), Senin (5/5).
Sesuai arahan gubernur NTB, kata dia, PERTI jangan lagi disibukkan oleh politik. Namun bersatu kembali membangun pendidikan, tidak lagi berada di bawah partai politik.
PERTI adalah organisasi independen, namun jika ada anggota yang ingin terjun ke dunia politik diperbolehkan. “Boleh, asal jangan bawa-bawa lagi organisasi PERTI. Sehingga kita miliki satu niat, satu cita-cita membesarkan Tarbiyah, salah satunya mendirikan Universitas PERTI,” ujarnya.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menuturkan, Tarbiyah di NTB bukan barang baru namun cukup lama juga vakum.
Kini, Tarbiyah ingin bangkit kembali mengingat Tarbiyah adalah satu dari tiga organisasi Islam tertua di Indonesia.
Muhammadiyah lahir pada tahun 1912, Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926, dan Tarbiyah Islamiyah pada tahun 1928 di Sumatera Barat.
“Awal mulanya Tarbiyah Islamiyah ini berikan pendidikan di surau-surau baru kemudian di madrasah.
Inilah kali pertama organisasi Islam mengajar secara modern di dalam ruangan, ada gurunya, meja dan kursi, biasanya surau-surau,” terangnya.
Melihat awal pergerakan Tarbiyah Islamiyah adalah bidang pendidikan, kata Miq Iqbal sapaannya, diharapkan peran Tarbiyah Islamiyah di NTB dapat melahirkan tokoh-tokoh kemerdekaan kedua di Indonesia.
“Yakni, sudah merdeka secara politik namun harus merdeka juga secara ekonomi,” ujar gubernur.
Orang nomor satu di NTB ini berpesan agar PERTI fokus pada bidang pendidikan. Tidak terlalu banyak bermain di dunia politik.
Ia pun mencontohkan, pengurus Yatofa Bodak yang khidmat di dunia pendidikan dan kesehatan. “Beliau fokus memberikan pelayanan sosial, pendidikan kepada jamaah,” imbuhnya.
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Abu Rokhmad menambahkan, generasi muda Islam hari ini menghadapi tantangan krisis akhlak dan literasi agama.
Gempuran budaya hedonistik, minimnya keteladanan, serta menurunnya minat belajar ilmu-ilmu agama menjadi ancaman serius bagi kelangsungan ruh keulamaan.
Lebih dari itu, regenerasi ulama dan kader militan PERTI juga mengalami stagnasi. Infrastruktur pendidikan yang belum merata, serta lemahnya daya saing institusi pendidikan PERTI di tengah persaingan global, menuntut adanya reformasi menyeluruh.
Jika tidak segera dilakukan revitalisasi, maka khazanah perjuangan para pendiri hanya akan menjadi cerita romantik masa lalu yang kehilangan relevansi.
“PERTI saat ini harus mampu mewujudkan cita-cita pendirinya, lahir dari madrasah. Kalau mau mengubah nasib seseorang atau suatu kaum, suatu bangsa, salah satu pintu yang paling tepat adalah pendidikan. Baik formal dan informal,” tutupnya. (ewi/r6)
Editor : Akbar Sirinawa