Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kala Wamenpar RI Berkunjung ke Desa Wisata Sade, Kagumi Story Telling Kuat, Sarankan Tenun Punya Label

Lestari Dewi • Sabtu, 24 Mei 2025 | 21:41 WIB
Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa melihat aneka kain tenun saat berkunjung ke Desa Wisata Sade, Rambitan, Pujut, Loteng, Jumat (23/5).
Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa melihat aneka kain tenun saat berkunjung ke Desa Wisata Sade, Rambitan, Pujut, Loteng, Jumat (23/5).

Usai menanam pohon, Wamenpar RI Ni Luh Puspa menyempatkan diri berkeliling di Desa Wisata Sade, Desa Rembitan, Pujut, Loteng. Terpukau dengan story telling kuat, kain tenun Sade disarankan miliki label.

---

SARUNG tangan berwarna jingga dilepas Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) RI Ni Luh Enik Ermawati. Wanita cantik yang akrab disapa Ni Luh Puspa itu usai mengikuti kegiatan menanam pohon bertajuk Gerakan Wisata Bersih yang diinisiasi salah satu brand minuman isotonik ternama di pekarangan Desa Wisata Sade, Desa Rambitan, Pujut, Lombok Tengah (Loteng).

Kedua tangannya pun dicelupak ke dalam ember berisi air untuk dibersihkan. Beberapa lembar tisu tampak diambil oleh Wamenpar cantik ini untuk mengeringkan jari jemarinya. Mengetahui kegiatan utamanya pagi itu sudah selesai, wanita yang pernah terjun di dunia presenter ini menyempatkan diri berkeliling di desa wisata tersebut.

Menaiki anak tangga, didampingi seorang pemandu wisata, Wamenpar telah berada di salah satu rumah khas Dusun Sade. Uniknya, lantai rumah ternyata dibuat dari bahan kotoran hewan ternak, seperti sapi atau kerbau.

Walau dari kotoran, tapi tidak berbau. Selain itu, dinding rumah meski berbahan non permanen tetap terlihat asri dan suasana budaya yang kental.

Rombongan kemudian bergeser ke spot menarik lainnya. Pohon cinta, simbol pernyataan cinta pemuda pemudi yang hendak menikah akan bertemu disana. Wamenpar juga berkesempatan melihat langsung cara pembuatan menyensek kain tenun songket khas Dusun Sade.

Dia juga membeli beberapa lembar kain tenun dengan motif cantik. Cukup lama juga dirinya memilih, sebab sembari mendengar penuturan sang pemandu soa asal muasal kain tenun yang wajib dibuat oleh perempuan Sade sebelum menikah.

Ternyata ini adalah kali kedua Wamenpar datang ke Desa Wisata Sade. Sebelum tahun 2020, Wamenpar sudah pernah berkunjung saat masih menjadi presenter di salah satu TV nasional. Dia berlibur kala itu. Selang lima tahun berlalu diakui cukup banyak perbedaan signifikan.

“Kalau tidak salah sebelum 2020an saya sudah pernah kesini. Sudah lama banget, belum seperti ini, serapi inilah. Saya masih di media dan kesini untuk datang berwisata,” ungkapnya kepada wartawan di sela kunjungan, Jumat (23/5).

Melihat kebersihan dan kerapian desa wisata ini, Wamenpar Ni Luh Puspa mengharapkan untuk terus dijaga. Berkolaborasi dengan pentahelix untuk memberikan dan meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan, kebersihan dan pariwisata di daerah.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini mengaku takjub dengan keterampilan para ibu-ibu penenun disini. Dimana mereka mampu mewujudkan motif-motif kain tenun dengan beragam kerumitan.

Secara khusus, Wamenpar berharap produk kerajinan yang dibuat dengan peralatan tardisional itu bisa  meningkatkan nilai jual. Salah satunya dengan pemberian label.

Wamenpar melihat, kain tenun yang disesek ini ternyata memiliki story telling yang kuat. Dimana setiap wisatawan yang datang berkunjung akan diceritakan tahapan-tahapan menenun.

Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa berfoto di Pohon Cinta saat berkunjung ke Desa Wisata Sade, Rambitan, Pujut, Loteng, Jumat (23/5).
Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa berfoto di Pohon Cinta saat berkunjung ke Desa Wisata Sade, Rambitan, Pujut, Loteng, Jumat (23/5).

Alasan para perempuan menenun yang menjadi syarat mereka untuk menikah. Hingga berapa lama mereka bisa menghasilkan selembar kain tenun.

“Sekarang ini adalah jamannya pariwisata strory telling, sehingga harus dikuatkan dan diatensi dengan pemberian label,” kata wanita kelahiran 18 November 1986 ini.

Wamenpar mencontohkan, salah satu produk kain bordiran berupa baju di Bali diberikan label. Label ini mencantumkan siapa yang membordir dan berapa lama proses pembuatan. Dengan label itu ternyata mendongkrak nilai dari harga baju atau kain tersebut.

“Saya pikir hal-hal seperti ini perlu diperkuat dan ini diyakini bisa memberikan nilai tambah,” kata alumnus STIE Nobel Indonesia Makassar itu.

Wakil Bupati Loteng HM Nursiah menambahkan, kebijakan pemerintah daerah sudah dalam peningkatan kualitas yang saat ini menjadi prioritas dan masuk ke dalam RPJMD Loteng.

Khusus di Desa Wisata Sade sangat membutuhkan peningkatan kualitas produk lokal. Pemda pun akan melakukan inventarisasi produk di Desa Wisata Sade mana saja yang layak untuk ditingkatkan kualitasnya

“Dari label itu bisa menjadi bahan promosi bukan hanya nasional tapi juga internasional,” imbuh mantan Sekda Loteng ini. (*)

 

 

 

Editor : Siti Aeny Maryam
#Lombok Tengah #kain tenun #Wakil Menteri Pariwisata #story telling #Desa Wisata Sade