Lombok Post-Pemerintah kabupaten (pemkab) Lombok Tengah (Loteng) mengevaluasi program penanganan stunting dalam rangka memperkuat kolaborasi percepatan penurunan stunting hingga satu digit tahun ini.
“Sekarang kasus stunting di Lombok Tengah mencapai 9,86 persen atau sebanyak 8.000 balita stunting,” kata Wakil Bupati (Wabup) Loteng HM Nursiah, Minggu (1/6).
Ia mengatakan, penurunan stunting di daerah cukup baik. Pada tahun 2023 kasus stunting mencapai 17 persen, kemudian menurun di tahun 2024 menjadi 13 persen.
Kini dari hasil evaluasi hingga bulan April berada diposisi 9,86 persen.
“Ada penurunan kasus setiap tahun,” ucap Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Loteng ini.
Adapun jumlah keluarga beresiko stunting di Gumi Tatas Tuhu Trasna kini mencapai 40 ribu jiwa.
Melihat jumlah ini, program yang dilaksanakan untuk percepatan penurunan stunting di antaranya pemberian makanan tambahan bagi balita stunting, pemberian telur, program gerakan pola asuh dan evaluasi program.
“Program ini tetap dilaksanakan dalam rangka mempercepat penurunan angka stunting di Lombok Tengah,” katanya.
Mantan Sekda Loteng ini menyebut, faktor penyebab stunting diantaranya masalah ekonomi, pola asuh dan dampak pernikahan dini.
Sehingga diperlukan kolaborasi untuk memperkuat percepatan penurunan stunting.
Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan KB (DP3AP2KB) Loteng Kusriadi mengatakan, percepatan penurunan stunting ini salah satu program tematik nasional percepatan stunting.
Baca Juga: TPPS Diminta Turun Langsung Lapangan Dongkrak Penanganan Stunting Daerah
“Bagaimana menurunkan stunting serendah mungkin di Indonesia khususnya di Indonesia, ditargetkan menuju 14 persen,” katanya.
Saat ini, jumlah kasus stunting di Loteng berada di angka satu digit yakni 9,86 persen. Sehingga kegiatan percepatan penurunan stunting diharapkan dapat mengoptimalkan potensi dalam menuju satu digit stunting di Loteng.
“Semoga angka stunting di Lombok Tengah bisa di bawah 5 persen minimal menuju satu digit,” kata Kusriadi.
akui Baca Juga: Akui Saja, Urusan yang Satu Ini Mataram Kalah Telak dari Lombok Tengah
Menyinggung jumlah keluarga beresiko stunting mencapai 40 ribu jiwa lebih, kata dia, perlu dibedah secara mendalam. Dari jumlah ini, rata-rata disebabkan menikah muda di bawah umur 19 tahun.
Kemudian, tidak memiliki jamban atau mandi cuci kakus (MCK), tidak memiliki akses air minum dan sebagainya.
“Ini kita sudah minta setiap desa untuk mendata by name by address, melalui program akan kita atensi penyebab-penyebab ini,” terangnya.
Dalam upaya pencegahan stunting ini, kata Kusriadi, Kementerian Kesehatan RI memberikan masukan agar dapat memberikan pemberian makanan olahan bergizi.
Makanan yang kaya protein hewani ini menjadi salah satu strategi penting yang diusulkan oleh Kementerian Kesehatan untuk mengatasi stunting pada anak balita.
“Seperti paket makanan bergizi gratis (MBG), ini merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk meningkatkan gizi anak-anak dan mencegah masalah kesehatan yang dapat disebabkan oleh stunting, seperti gangguan pertumbuhan fisik dan kognitif,” beber dia. *
Editor : Prihadi Zoldic