Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berkunjung ke Museum Tenun Dharma Satya di Desa Puyung (1), Perkaya Atraksi Wisata Berbasis Budaya dan Tradisi Lokal

Lestari Dewi • Jumat, 13 Juni 2025 | 20:24 WIB
Saman (kiri) menunjukkan aneka kain tenun tradisional khas suku Sasak yang dipajang dalam Museum Tenun Dharma Satya di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Kamis (12/6).
Saman (kiri) menunjukkan aneka kain tenun tradisional khas suku Sasak yang dipajang dalam Museum Tenun Dharma Satya di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Kamis (12/6).

Museum Tenun Dharma Satya di Desa Puyung, Lombok Tengah telah diresmikan. Artinya, satu lagi destinasi unggulan dimiliki Gumi Tatas Tuhu Trasna. Ini hadir ntuk memperkaya atraksi wisata berbasis budaya dan tradisi lokal.

---

MUSEUM Tenun Dharma Satya di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah (Loteng) telah diresmikan pekan lalu.

Lokasinya hanya beberapa ratus meter dari simpang empat Desa Puyung. Tepat di kiri jalan, tak jauh dari pasar tradisional Desa Puyung museum ini berada.

Halaman luas puluhan are siap menampung berbagai ukuran kendaraan yang mengantarkan para wisatawan berkunjung ke museum ini.

Menuju lokasi museum ini pengunjung harus melewati sebuah jembatan cantik yang tepat berada di belakang Artshop Dharma Satya milik Saman.

Siapa sangka di balik megahnya Artshop ini terdapat sebuah bangunan museum tenun yang didominasi warna putih dan kayu-kayuan.

Memberikan kesan kembali ke alam dengan penataan museum yang apik dari tangan dingin Saman, pensiunan kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Loteng pada tahun 2021 lalu.

Kecintaannya terhadap budaya dan tradisi lokal Suku Sasak, membuat Saman berinisiatif menghadirkan Museum Tenun Dharma Satya, satu-satunya di Pulau Lombok.

Dia tidak ingin, kain-kain tenun yang dibuat secara tradisional ini dimakan oleh perkembangan zaman. Tidak diketahui bagaimana proses awal pembuatan hingga menjadi produk cantik yang memiliki nilai jual mahal.

Saman mengajak Koran ini memasuki sebuah bangunan bertuliskan Khasanah Songket Lombok. Suara rekaman wanita secara otomatis menyambut kedatangan setiap pengunjung yang masuk ke dalam ruangan tersebut.

Menjelaskan sederetan motif tenun Songket Lombok yang terpajang di ruangan ini. Suara ini sukses membawa pengunjung berimajinasi terhadap perjalanan budaya kain Songket di pulau Lombok.

Photo
Photo

Tidak kalah ketika berkunjung ke artshop serupa yang berada di luar daerah. Ini sengaja dilakukan Saman karena dia ingin ada story telling yang sama diterima setiap pengunjung.

“Jadi informasi yang diterima pengunjung satu arah, sebab kebanyakan pemandu satu dengan lainnya terkadang beda-beda penyampaiannya. Sehingga pengunjung atau wisatawan jadi tidak fokus,” ungkap Saman, Kamis (12/6).

Di dalam Musem Tenun Dharma Satya, pengunjung tidak hany disambut dengan suasana yang kaya akan budaya, lengkap dengan pajangan kain-kain tenun yang dibuat dengan teknik tenun turun-temurun.

Museum ini juga menghadirkan koleksi alat tenun, proses pembuatan, serta hasil karya kain tenun songket khas Lombok.

Salah satu pengalaman menarik di sini adalah pengunjung berkesempatan untuk melihat langsung proses menenun menggunakan alat tradisional.

Uniknya, hanya pengunjung wanita yang diperkenankan mencoba menyesek kain tenun. Sebab sudah jadi tradisi bahwa menyesek kain tenun dilakukan perempuan. 

Saman melihat sebagian besar wisatawan baik domestik dan mancanegara sangat antusias terhadap budaya lokal Lombok.

Museum juga nantinya akan menampilkan berbagai atraksi budaya lokal, mulai dari persesean, tari Gandrung, permainan Gamelan, Jaran Kamput dan sebagainya.

“Kalau ini tidak kita tampilkan di hadapan wisatawan, mereka juga tidak akan mengetahui. Kita coba angkat melalui pelestarian budaya tenun ditambah pelestarian budaya lokal khas Lombok,” ungkapnya.

Sebagai bentuk inovasi, pelestarian budaya tenun dan budaya lokal harus disentuh dengan perkembangan teknologi.

Seperti contoh ketika pengunjung masuk ke dalam bangunan museum, dimana sudah ada story telling otomatis yang menjelaskan asal muasal kain tenun Songket.

“Jadi pemandunya tidak perlu menjelaskan lagi, story telling ini sudah kita lengkapi dengan dua bahasa, Indonesia dan Inggris,” kata Saman. (*/bersambung).

 

 

Editor : Siti Aeny Maryam
#Lombok Tengah #Atraksi Wisata #desa puyung #museum #tenun #Tradisi Lokal