LombokPost - Area parkir yang kian menyempit menjadi masalah klasik dihadapi RSUD Praya, Lombok Tengah.
Berbagai opsi muncul ke permukaan, mulai dari pembebasan lahan seluas 1,7 hektare dengan anggaran Rp 17 miliar hingga pemindahan gedung RSUD Praya ke pusat kota.
“Belum ada arahan lagi (pembebasan lahan 1,7 hektare, red) karena ada muncul opsi membangun rumah sakit di eks kantor bupati. Kita (pemkab Loteng) ingin secara total melayani kesehatan untuk masyarakat, namun lokasi rumah sakit sekarang agak dalam,” ungkap Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Loteng Lalu Wiranata, Minggu (6/7).
Wiranata menyebut, berbagai pilihan ini memiliki pertimbangannya masing-masing. Untuk pembebasan lahan seluas 1,7 hektare, pemerintah kabupaten (pemkab) Loteng telah menganggarkan Rp 17 miliar.
Pemkab berencana membeli lahan milik warga di sebalah barat gedung RSUD Praya. Belakangan diketahui, lahan ini telah menjadi milik pengembang perumahan sehingga memerlukan ada pembicaraan lebih lanjut antara pemkab bersama pengembang.
Jika pemkab getol memperluas lahan ke bagian barat, sisi lain dihadapkan dengan persoalan akses jalan di depan rumah sakit yang belum dua jalur. Dimana syarat naiknya tipe rumah sakit menjadi B adalah gedung rumah sakit memiliki akses jalan dua jalur. Artinya, jalan di depan gedung RSUD Praya yang berstatus jalan provinsi itu harus diperlebar.
“Dan ini (status jalan provinsi) membuat pemkab kesulitan memperlebar jalan menjadi dua jalur, dari jalur rabitah hingga Jurang Jaler statusnya milik provinsi, harus menunggu untuk koordinasi dengan provinsi,” papar Wiranata.
“Sebenarnya tidak sulit untuk berkomunikasi, anggaran dari provinsi untuk memperlebar jalan tersebut yang tidak ada. Untuk menunggu (diperlebar) akan lama, sedangkan rumah sakit kita sudah tipe B tapi melayaninya masih rasa tipe C,” sambung dia.
Sebab itu muncul pilihan lain untuk sekali-kali membangun gedung RSUD Praya di eks kantor bupati. Tidak hanya lokasinya yang strategis karena di jantung kota, aset pemda seluas tiga hektare itu diyakini tidak ada masalah.
Wiranata mengaku, sudah melakukan kajian singkat dengan beberapa tim dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya, pemkab Loteng hendak membangun pusat perbelanjaan di eks kantor bupati ini namun dari hasil kajian tidak direkomendasikan.
Sebab, aktivitas orang berbelanja di pusat perbelanjaan menurun 20 persen setiap tahunnya akibat orang lebih suka berbelanja secara daring.
“Kita ingin akses ke sana lebih besar, lebih luas sehingga kita coba pertimbangkan untuk bangun di jantung kota,” cetusnya.
“Jadi satu sisi, pemkab Loteng sedang mempertimbangkan memilik investasi bangun mol pusat perbelanjaan atau memindahkan RSUD Praya ke pusat kota. Dan untuk rencana bangun mol kita carikan lokasi yang lain, lebih dekat ke Mandalika,” kata dia.
Jika nantinya opsi ini mendapat lampu hijau, maka gedung RSUD Praya sebelumnya bisa dipakai sebagai pusat pendidikan tenaga kesehatan. Menurutnya, bila mempertimbangkan masa mendatang, ketika rumah sakit pindah ke pusat kota lebih menjanjikan karena lokasi mudah di akses.
Selain itu, pemkab tidak perlu lagi membebaskan lahan karena aset daerah dengan luas tiga hekatare.
“Kita ingin menjadi warisan beliau wujudkan rumah sakit internasional di pusat kota, namun ini masih wacana ya kita masih membahas lagi dengan berbagai pihak,” kata Wiranata.
Bupati Lombok Tengah H Lalu Pathul Bahri mengaku sudah mendengar opsi ini, namun perlu di musyawarahkan terlebih dahulu. Perlu dipikirkan lebih jauh terutama kondisi keuangan daerah. Namun dari gesture bupati tampak lebih mengupayakan perluasan lahan parkir ke sebelah barat gedung RSUD Praya.
“Jika diperluas (lahan parkir) bisa jadi, rumah sakit kita juga sudah bagus. Kalau bisa diperluas kan lebih sedikit anggarannya. Kalau dipindah sekarang akan besar anggarannya, maka harus dipikirkan lebih jauh,” terangnya.
Menyoal kesulitan berkomunikasi dengan pemprov NTB, terkait pelebaran jalan depan RSUD Praya, bupati Pathul tegaskan akan komunikasikan lagi dengan pemprov NTB.
“Nanti kita komunikasikan lagi, ini penting sekali (perluas lahan parkir). Kalau ada lahan parkir kelihatannya lebih luas, kami diskusi-diskusi tentang tanah di sana,” ucap orang nomor satu di Gumi Tatas Tuhu Trasna ini. (ewi/r7)
Editor : Marthadi