LombokPost-Warga binaan Lapas Terbuka Kelas IIB Lombok Tengah (Loteng) ikut menyukseskan program ketahanan pangan nasional.
Melalui pembinaan pertanian, mereka menanam padi dan jagung di atas lahan seluas tiga hektare, dengan hasil panen mencapai belasan ton.
“Di Lapas Terbuka ini tidak fokus terhadap hasil pertaniannya, namun bagaimana berikan pembinaan kepada warga binaan menjelang bebas dari lapas,” ungkap Kepala Kantor Wilayah Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) NTB A Agung Gde Krisna kepada wartawan usai membuka pekan olahraga siswa di Lapas Terbuka Kelas IIB Loteng, Rabu (23/7).
Krisna mengatakan, saat ini terdapat 19 warga binaan di Lapas Terbuka. Mereka berada di tahap akhir masa pidana, sekitar tiga bulan sebelum bebas.
Untuk membantu proses adaptasi dengan masyarakat, lapas memberikan pembinaan di bidang pertanian, seperti menanam padi dan jagung.
“Sebelumnya ada 20 warga binaan, satu orang sudah bebas. Dalam pembinaan ini, kita libatkan langsung masyarakat, mereka mengajarkan para napi bercocok tanam. Selain masyarakat, kita juga berkolaborasi dengan balai latihan kerja, kepolisian, TNI, lembaga swasta dan lainnya,” terangnya.
Krisna menambahkan, keterampilan yang diperoleh selama pembinaan diharapkan dapat diterapkan saat warga binaan kembali ke masyarakat, sehingga mereka tidak kembali terjerumus ke dalam kejahatan.
“Memulihkan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan yang kita bekali dengan keterampilan,” kata Krisna.
Lalu ke mana hasil panen para warga binaan? Krisna menjelaskan, hasilnya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan di dalam lapas. Sesuai arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIPAS) RI, hasil panen dibeli rekanan dan kembali dimanfaatkan untuk kebutuhan lapas.
“Memutar perekonomian warga binaan di dalam lapas, karena mereka juga kita berikan semacam premi atau insentif. Sehingga ketika keluar lapas mereka memiliki tabungan,” jelasnya.
Kepala Lapas Terbuka Kelas IIB Loteng Surbakti menuturkan, dirinya baru satu bulan bertugas di Pulau Lombok. Ia mengaku sempat mengalami culture shock saat melihat kondisi lapas terbuka yang jauh berbeda dengan tempat tugas sebelumnya.
“Tidak seperti di Medan, temboknya tinggi menjulang. Sampai di sini, lingkungan hanya dipagari kawat berduri, sungai, kemudian sawah,” katanya.
Surbakti menegaskan akan melanjutkan program-program yang sudah berjalan baik di Lapas Terbuka. Ia juga berencana menghidupkan kembali program yang sempat terhenti namun dinilai bermanfaat.
“Contoh akan mengaktifkan kembali kolam yang semula jadi kolam renang, diubah jadi kolam ikan dan dikelola para warga binaan,” kata Surbakti. (ewi/r7)
Editor : Jelo Sangaji