Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Masnun Sulap Eceng Gondok Jadi Bernilai Ekonomis, Penuhi Permintaan Pasar di KEK Mandalika hingga Keluar Daerah

Lestari Dewi • Kamis, 24 Juli 2025 | 10:16 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post


Eceng gondok yang kerap dianggap gulma pengganggu perairan, kini disulap Masnun, warga Kelurahan Perapen, Praya, menjadi sumber penghasilan. Lewat kreativitasnya, tanaman liar dari Bendungan Batujai itu diubah menjadi kerajinan bernilai jual tinggi.

----

SIAPA yang tak kenal eceng gondok? Tanaman bernama latin Pontederia Crassipes ini kerap tumbuh liar di perairan dan dikenal sebagai gulma pengganggu. Penyebarannya cepat, menjalar melalui saluran air hingga memenuhi badan-badan air, seperti yang terjadi di Bendungan Batujai, Lombok Tengah.

Namun, di tangan Masnun, tanaman yang kerap dianggap sampah ini justru mendatangkan rezeki. Bersama warga sekitar, ia menyulap eceng gondok menjadi aneka kerajinan bernilai jual. Mulai dari tas, topi, hingga tempat tisu.

“Eceng gondok sering dianggap gulma, sebenarnya bisa disulap menjadi berbagai kerajinan tangan, termasuk topi. Dengan sedikit kreativitas, eceng gondok yang dikeringkan dan dianyam dapat diubah menjadi topi yang unik dan bernilai jual tinggi,” ucap Masnun.

Masalah eceng gondok di Bendungan Batujai sudah seperti proyek abadi yang tak kunjung selesai. Dana demi dana digelontorkan, tapi hanya berakhir menjadi gundukan gulma.

Dari keresahan itu, Masnun melihat peluang. Bermodal keingintahuan dan keberanian mencoba, ia mulai merintis usaha kerajinan dari bahan tak lazim ini.

Hasilnya tak mengecewakan. Produk-produk buatannya mulai diminati pasar. Tak hanya mengubah limbah jadi barang bernilai, Masnun juga turut membantu mengurangi penyebaran gulma perairan.

Kerajinannya kini rutin dipesan untuk pasar di KEK Mandalika. Bahkan, pesanan datang dari luar daerah seperti Sumbawa, Kalimantan, hingga Yogyakarta. Harga produk bervariasi, antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, tergantung tingkat kesulitan.

Masnun belajar membuat kerajinan ini secara otodidak, banyak dibantu video dari YouTube. Ia biasanya mengumpulkan eceng gondok di sekitar bendungan, lalu dibersihkan dan dijemur beberapa hari hingga benar-benar kering. Setelah itu, batangnya dipipihkan untuk memudahkan proses anyaman.

Baca Juga: Abdul Qaedir Jaelani Kembangkan Kerajinan Anyaman, Ekspansi Keenam Negara, Omzet Puluhan Juta Rupiah

Batang eceng gondok yang telah dipipihkan kemudian dianyam sesuai pola yang diinginkan. Untuk produk topi, misalnya, bentuknya bisa beragam, dari topi pantai, petani, koboi, hingga fedora.

BERNILAI EKONOMIS: Masnun menunjukkan deretan kerajinan anyaman dari eceng gondok di kediamannya, Kelurahan Perapen, Praya, Lombok Tengah.
BERNILAI EKONOMIS: Masnun menunjukkan deretan kerajinan anyaman dari eceng gondok di kediamannya, Kelurahan Perapen, Praya, Lombok Tengah.

“Setelah anyaman selesai, topi bisa dihaluskan dan diberi sentuhan akhir, seperti penambahan aksen atau lapisan pelindung agar lebih tahan lama,” jelasnya.

Meski hanya lulusan SMA, Masnun berharap semakin banyak warga yang ikut memanfaatkan limbah ini. Ia yakin, jika dikelola dengan baik, eceng gondok bukan lagi sampah tak berguna, melainkan sumber penghasilan.

“Daripada menumpuk jadi sampah, kenapa tidak diolah menjadi kerajinan,” tukasnya. (*/r7)

Editor : Jelo Sangaji
#Lombok Tengah #eceng gondok #anyaman #kerajinan #sulap