Perhelatan Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII NTB 2025 menghadirkan banyak lomba yang unik dan di luar nalar.
Salah satunya lomba tahan napas di dalam air. Di lomba ini, peserta asal Lombok Tengah Didi Sulaiman menyabet medali emas dengan catatan waktu 3 menit 30 .
-----
UMBUL-UMBUL bertuliskan logo Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII NTB 2025 berjajar rapi di sisi kiri dan kanan pintu masuk timur Gelanggang Olahraga (GOR) Poltekpar Lombok, Lombok Tengah.
Menyambut kedatangan kontingen dari berbagai daerah yang akan mengikuti sejumlah perlombaan siang itu.
Tribun GOR tampak lengang. Hanya terlihat beberapa penonton, sebagian besar adalah peserta dan panitia pelaksana.
Namun, sepinya tribun tak mengurangi semangat para peserta yang tengah berlaga. Salah satunya dalam lomba tahan napas.
Sorak sorai terdengar saling menyemangati. Suasananya mengingatkan pada permainan masa kecil.
Padahal ini ajang tingkat nasional. Semua tampak menikmati, menang atau kalah tak jadi soal. Seperti slogan FORNAS, yang menekankan kebersamaan dan kegembiraan.
Beberapa peserta tampak mengenakan kaos biru langit, berbaris rapi. Sebelum lomba dimulai, mereka serempak melakukan pemanasan yang dipandu panitia dari Induk Organisasi Olahraga (INORGA) Lembaga Seni Pernapasan Satria Nusantara (LSPSN).
Dalam perlombaan ini, Didi Sulaiman mencatatkan waktu 3 menit 30 detik menahan napas di dalam air.
Pria asal Lombok Tengah ini keluar sebagai juara umum dan meraih medali emas. Ternyata, ia juga pemegang rekor waktu yang sama pada FORNAS VII di Bandung, Jawa Barat.
Ketua LSPSN Loteng Muji Purwandi mengatakan, Lembaga Seni Pernapasan Satria Nusantara merupakan olahraga seni yang menitikberatkan pada latihan pernapasan. Dalam setiap gerakannya, peserta dilatih menahan napas.
“Setiap jurus itu kita dipaksa untuk tahan napas. Karena kita disuruh mengirit oksigen yang ada di dalam tubuh, supaya tubuh ini survive dengan sedikit oksigen,” jelas Muji.
Menurutnya, lomba tahan napas adalah ciri khas Satria Nusantara. Siapa yang paling lama menahan napas dalam air, itulah pemenangnya. Hanya ada dua kategori dalam perlombaan ini, yakni maksimal 49 tahun dan minimal 50 tahun.
“Jadi yang dinilai itu yang paling lama tahan napas. Nah yang kemarin itu, yang juara satu peraih medali emas dari Lombok Tengah yaitu Didi Sulaiman,” terang Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Loteng ini.
Muji menjelaskan, media air digunakan agar peserta tidak bisa curi napas. Saat latihan mungkin bisa, tapi di dalam air akan ketahuan melalui gelembung yang muncul. Jika ada peserta yang bernapas lebih dulu, panitia langsung menepuk pundaknya sebagai tanda diskualifikasi.
“Kalau dalam latihan sambil tahan napas kadang-kadang ada yang nyuri kan. Misalkan 15 langkah dalam masing-masing jurus, kadang-kadang sampai 5 langkah sudah curi napas. Baru sampai 8 langkah curi napas,” beber Muji.
Keberhasilan atlet asal Gumi Tatas Tuhu Trasna ini tentu menjadi kebanggaan. NTB kembali menyumbang medali emas dari cabang unik yang menuntut ketahanan fisik dan mental.
“Dan orang itu adalah orang Lombok Tengah yaitu Didi Sulaiman. Rekornya sampai sekarang belum terpecahkan dengan waktu 3 menit 30 detik,” bangganya. (*/r7)