Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

GAWAT, Angka Kehamilan Remaja di Lombok Tengah Kian Mencemaskan, Pemkab Luncurkan Gerakan Stop Pernikahan Dini Tingkat SMP

Lestari Dewi • Senin, 4 Agustus 2025 | 20:35 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost-Angka kehamilan ibu di bawah usia 19 tahun di Lombok Tengah kian mencemaskan.

Hingga akhir Juni 2025, tercatat 321 remaja sudah hamil, dan 264 di antaranya telah melahirkan.

Pemerintah daerah pun memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi dan pelayanan kesehatan berkelanjutan.

“Ini baru angka yang hamil, artinya dia nikah kemudian hamil. Kita juga belum tahu angka (anak) yang menikah, tapi belum hamil,” ucap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng dr Nasrulloh kepada Lombok Post, Sabtu (2/8).

Pada 2023, angka kehamilan ibu di bawah usia 19 tahun mencapai lebih dari 900 orang, dengan 648 di antaranya sudah melahirkan.

Sementara pada 2024, tercatat lebih dari 800 kehamilan dengan 646 ibu yang melahirkan.

“Angka ini cukup mengherankan, dalam kurun waktu tiga tahun ditemukan data hingga ratusan. Artinya, setiap desa ada 50 ibu hamil (di bawah usia 19 tahun, red),” tambahnya.

Melihat kondisi tersebut, kata dr Nasrulloh, pasangan suami istri sebaiknya mengikuti program Keluarga Berencana (KB).

Sebab, hal ini berdampak pada kesehatan ibu dan anak, alat reproduksi, berat bayi lahir rendah (BBLR), gizi buruk dan kurang, serta stunting.

“Syukurlah kalau dia pakai KB, sehingga faktor-faktor risiko seperti ini bisa dikurangi,” katanya.

Penanganan kasus ini tidak cukup dengan pemberian program semata.

CEGAH NIKAH DINI: Wakil Bupati Loteng HM Nursiah mengajak ribuan siswa-siswa SMP untuk mencegah pernikahan usia dini di halaman SMPN 1 Praya Timur, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, Sabtu (2/8).
CEGAH NIKAH DINI: Wakil Bupati Loteng HM Nursiah mengajak ribuan siswa-siswa SMP untuk mencegah pernikahan usia dini di halaman SMPN 1 Praya Timur, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, Sabtu (2/8).

Dikes Loteng memberikan layanan berbasis siklus kehidupan dan kebutuhan.

Jika ada ibu hamil di bawah usia 19 tahun, Dikes melalui Puskesmas dan Posyandu akan memantau proses kehamilan hingga persalinan.

Dengan begitu, risiko persalinan dapat terdeteksi lebih awal, seperti panggul kecil, preeklampsia (tekanan darah tinggi), perdarahan akibat robekan, dan sebagainya.

“Pernikahan anak ini menjadi faktor risiko terbesar terhadap kematian ibu dan bayi,” tegas dr Nasrulloh.

Untuk menekan angka kehamilan ibu di bawah usia 19 tahun, Pemkab Loteng gencar menyosialisasikan pola hidup sehat, asupan gizi, dan kesehatan reproduksi melalui Posyandu Remaja serta sekolah tingkat SMP dan SMA.

Terbaru, sosialisasi menyasar pondok pesantren lewat Gerai Santri Sehat dengan membentuk agen perubahan.

“Sebab pada usia remaja ini, mereka lebih mendengarkan teman-teman sebayanya ketimbang orang dewasa,” terangnya.

Peran orang tua di rumah juga sangat penting.

Apa pun kondisi orang tua, baik dari kalangan menengah atas, menengah, maupun bawah, harus peduli terhadap anak.

Jadilah orang tua yang bisa dicontoh dan ditiru anak dalam hal positif.

“Jadilah orang tua menjadi orang terdekat bagi anak-anak. Sehingga anak-anak tidak mencari perhatian ke orang lain,” beber Nasrulloh.

Terkait fenomena orang tua menikahkan anak karena khawatir mendapat cibiran atau sanksi sosial, menurut Nasrulloh, hal itu tidak bisa dijadikan pembenaran.

Ia menilai, jika komunikasi dan perlakuan orang tua terhadap anak terjalin baik, maka sekat-sekat sosial bisa diabaikan.

“Itu hanya jadi pemoles orang tua untuk mengelak dari sesuatu yang salah,” cetusnya.

Di tempat terpisah, Wakil Bupati Loteng M Nursiah bersama jajaran melaunching Gerakan Stop Pernikahan Dini yang digelar serentak di 10 Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kecamatan Praya Timur.

“Seremonial di SMPN 1 Praya Timur untuk sosialisasi di hari pertama, kita mulai di Praya Timur bersama Forum Anak Loteng, gerakan serentak dilakukan pada delapan titik,” singkat Sekda Loteng Lalu Firman Wijaya.

Pemkab Loteng berharap sosialisasi ini bisa menekan angka pernikahan dini di Gumi Tatas Tuhu Trasna.

Saat ini, angka pernikahan dini menempati peringkat kedua tertinggi di NTB, yaitu 14,7 persen dengan 22 kasus yang dilaporkan.

“Ini baru yang dilaporkan, kemungkinan angka di bawah tinggi sekali seperti gunung es. Kami pun terperangah melihat fenomena ini sebab itu menyasar remaja-remaja SMP,” kata dia. (ewi/r7)

Editor : Redaksi Lombok Post
#cemas #Lombok Tengah #stop #pernikahan dini #angka #kehamilan #remaja #Luncurkan #di bawah umur