Di balik pintu besi yang hanya terbuka setengah, aktivitas para petugas kesehatan terlihat sibuk. Tumpukan dus cokelat, kulkas showcase berisi vaksin, hingga freezer raksasa dengan alat pemantau suhu otomatis, semua tersusun rapi di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Dari tempat inilah ribuan dosis obat dan vaksin dijaga kualitasnya sebelum sampai ke tangan masyarakat.
____
Berada di seberang jalan, tepat di depan kantor Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah (Loteng), berdiri kokoh gedung Instalasi Farmasi yang satu area dengan Laboratorium Kesehatan Daerah.
Dari kejauhan, pintu besi gedung itu terbuka setengah. Beberapa petugas kesehatan terlihat hilir mudik membawa papan kertas.
Aktivitas itu sejenak terhenti ketika mereka menyadari kedatangan awak media bersama Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Lingkungan (P3KL) Dikes Loteng.
Memasuki gedung, tampak sebuah ruangan disekat papan setinggi dada orang dewasa. Dari balik sekat, sejumlah petugas berjas putih menoleh menyambut kedatangan rombongan.
Di sisi kiri ruangan, terhampar ruang luas dengan tumpukan dus berwarna cokelat berbagai ukuran. Semuanya tersusun rapi.
Di sisi kanan, suasana berbeda. Pintu kaca digeser, seorang petugas mempersilakan masuk. Tidak ada bau obat menyengat karena semua masih tersegel dan terbungkus aman.
Di dalamnya berderet alat pendingin seperti kulkas showcase. Bedanya, isi kulkas bukan minuman, melainkan vaksin berbagai jenis yang tersimpan rapi.
Uniknya, setiap pendingin dilengkapi alat pengukur suhu untuk memastikan dingin tetap stabil.
“Jadi walau ini seperti kulkas yang dingin, ada suhu atau temperature yang mesti dijaga, tidak boleh kurang atau pun lebih,” ungkap Kepala Bidang P3KL Dikes Loteng Putrawangsa pada Lombok Post.
Di sudut lain ruangan, barisan freezer box berukuran besar tampak berjajar. Warnanya putih hingga biru.
Di dalamnya ribuan vaksin tersimpan dengan suhu yang sangat terjaga. Bahkan, setiap freezer dipasang alat pemantau yang langsung terhubung dengan pusat.
“Suhu ini harus terukur, walau kondisi freezer hidup namun suhunya harus terukur bahkan terhubung langsung dengan komputer dan pusat. Data suhu pada freezer ini termonitor,” bebernya.
Putrawangsa menegaskan, instalasi farmasi bukan sekadar tempat penyimpanan obat. Lebih dari itu, ia merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan di puskesmas hingga rumah sakit.
Dikes wajib memastikan pasien mendapatkan obat yang tepat, aman, dan efektif, serta memperoleh informasi jelas mengenai penggunaannya.
“Menyimpan perbekalan farmasi harus benar sesuai standar untuk menjaga kualitas dan keamanannya. Jangan sampai masyarakat jadi sasaran saat diberikan vaksin, namun vaksinnya tidak efektif karena dinginnya tidak maksimal,” tutup Putrawangsa.
Editor : Kimda Farida