Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Waduh, Minat Petani Tanam Singkong Masih Rendah di Lombok Tengah

Lestari Dewi • Selasa, 2 September 2025 | 18:31 WIB

 

ilustrasi petani singkong
ilustrasi petani singkong

LombokPost-Dinas Pertanian (Distan) Lombok Tengah (Loteng) tak menampik masih rendahnya minat petani untuk menanam singkong.

Selain itu, pemerintah kabupaten (pemkab) Loteng masih mengejar penanaman padi sebagai kabupaten penyangga pangan nasional dalam mendukung swasembada nasional.

Ini menyebabkan ketersediaan bahan baku memproduksi tepung tapioka sangat terbatas di Sentra IKM Olahan Pangan Loteng di Dusun Pancor Dao, Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang. Terbatasnya singkong menyebabkan harga singkong di tingkat petani menjadi mahal, yang semula Rp 2.500 per kg menjadi Rp 4.000 per kg.

“Kita sedang mengejar target swasembada pangan nasional, sehingga pengembangan penanaman ubi atau singkong masih kurang,” ucap Kepala Distan Loteng M Kamrin.

Walau perhatian berkurang, lanjutnya, Distan menggenjot penanaman singkong menggunakan lahan-lahan perkebunan sebab lahan sawah digunakan untuk tanam padi. Pihaknya juga menerapkan tanam singkong dengan sistem tumpang sari.

“Bibit yang sebelumnya kita beli dari Lampung itu masih dalam pengembangan di Batukliang,” cetusnya.

Diharapkan, dari bibit yang ditanam tersebut dapat dikembangkan lagi dan ditanam di lahan yang lebih luas. Lama masa panen singkong ini juga menjadi alasan mengapa petani masih enggan menanam singkong ketimbang padi.

“Ya (enggan tanam, red) kalau hitung-hitungan mereka rugi waktu, singkong ini panen 8 bulan, padi 3-4 bulan,” jelas mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Loteng ini.

Sebelumnya, Sekretaris Disperindag Loteng Raden Roro Sri Mulyaningsih menyinggung aktivitas Senta IKM Olahan Pangan di Dusun Pancor Dao, Desa Aik Darek tidak pernah mangkrak.

Sentra ini masih tetap beroperasi meski jumlah produksi olahan singkong menjadi tepung tapioka ini masih sedikit. Sedangkan keberadaan olahan kemiri di sana hanyalah menumpang karena membutuhkan lokasi sebelum dilakukan ekspor.

“Masa iya kita sebagai pemerintah daerah tidak memfasilitasi masyarakat ini, sementara dia (penghasil kemiri, red) mengekspor ke luar negeri. Tempat itu ada, kenapa tidak,” kata Ningsih.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Lombok Tengah #dinas pertanian #rendah #Petani #singkong #Minat