Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Asa Pelaku UMKM Lombok Tengah Baiq Ida Laila untuk Naik Kelas, Resep Cemilan Nenek Bawa D’Lael Masuk Supermarket dan Toko Oleh-Oleh

Lestari Dewi • Kamis, 18 September 2025 | 13:58 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Belasan tahun meninggalkan pekerjaan kantoran, Baiq Ida Laila tak pernah berhenti mencari jalan hidup.

Gagal dengan usaha jamu dan laundry, ia justru menemukan harapan lewat cemilan tradisional warisan keluarga.

-----

BELASAN tahun lalu Baiq Ida Laila memutuskan mundur dari pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta.

Keputusan itu tidak membuatnya berdiam diri.

Ida memilih berwirausaha. Ia pernah mencoba membuat minuman jamu sehat hingga membuka jasa laundry.

Namun, peruntungan belum berpihak kepadanya.

“Karena hasilnya sama-sama macet, saya pun berfikir kenapa tidak usaha cemilan kue tradisional. Ini sering dibuat oleh nenek dan ibu saya, belajarlah saya di sana sekaligus meneruskan,” ucap warga Kelurahan Prapen, Praya, Lombok Tengah.

Ida memulai dengan membuat stik keju dan keciput.

Produk itu dikemas sederhana lalu dijual ke sejumlah toko kecil hingga merambah supermarket di Kota Mataram.

Setiap pekan ia mengantarkan jajanan yang mulai banyak diminati tersebut.

“Zaman dulu kan belum banyak punya motor pribadi, saya pakai angkutan umum dari Praya ke Kota Mataram,” kenangnya ramah.

Melihat pasar lokal di Mataram semakin terbuka, Ida mengganti kemasan dari plastik biasa menjadi plastik mika.

Dari situ produknya bisa masuk ke supermarket besar seperti Ruby, Niaga, hingga MGM.

“Kemudian ikut pelatihan yang diberikan Dinas Perindag NTB, belajar percantik kemasan, pemasaran dan sebagainya,” kata Ida.

Meski begitu, kemasan cantik saja tidak cukup. Ia menambahkan sentuhan motif tenun songket khas Sasak.

Produk juga perlu merek dagang yang kuat.

Awalnya ia ingin memakai nama “Ida Laila”, tetapi sudah ada yang menggunakan. Dari situlah lahir merek D’Lael.

“Saat pelatihan kan ditanya apa nama merek daganganya, sebut yang awal ternyata sudah ada. Harus saat itu dibuat, hingga tercetuslah saya D’Lael dari nama saya dan kata Lail atau sepertiga malam, filosofinya begitu,” ungkapnya.

Kini, keterampilan yang terus diasah dan kemasan yang semakin menarik membuat produknya mulai masuk ke toko oleh-oleh, baik di Mataram maupun Praya.

“Untuk di toko oleh-oleh, saya pakai kemasan motif songket, kalau ke tempat lain pakai standing pouch sederhana,” beber Ida.

Baiq Ida Laila tunjukkan produk cemilan unggulannya
Baiq Ida Laila tunjukkan produk cemilan unggulannya

Meski sudah berkembang, usahanya masih sebatas pasar lokal.

Jarang sekali produknya menembus luar pulau apalagi luar negeri.

Ida berharap suatu saat jajanan tradisional kreasinya bisa merambah pasar internasional.

Dengan begitu, kesempatan membuka lapangan kerja bagi warga lokal semakin luas.

Sekali produksi, Ida hanya mampu membuat dua kilogram cemilan sehari dengan keuntungan bersih sekitar Rp 250 ribu.

Ia berharap ada bantuan peralatan, tambahan modal, juga tenaga kerja yang bisa membantunya dalam produksi maupun manajemen usaha.

“Kendala yang dihadapi UMKM karena manajeman usahnya ini, sebab uang masih bercampur antara uang pribadi dan uang usaha,” terangnya.

Editor : Kimda Farida
#Lombok Tengah #Cemilan #pelaku UMKM