Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

ASA Pelaku UMKM Lombok Tengah untuk Naik Kelas, Kain Tenun Batujai, Simbol Identitas dan Kebanggaan Budaya Lokal

Lestari Dewi • Sabtu, 20 September 2025 | 12:20 WIB
Meleke perkenalkan aneka produk kain tenun yang cantik dan segar dari Desa Batujai, Praya Barat, Lombok Tengah.
Meleke perkenalkan aneka produk kain tenun yang cantik dan segar dari Desa Batujai, Praya Barat, Lombok Tengah.

Kain tenun khas suku Sasak di Lombok Tengah tidak hanya berada di Desa Sade maupun Desa Sukarara. Tersembunyi sebuah kekayaan budaya, Desa Batujai telah menghasilkan kerajinan tangan dan penopang geliat pariwisata daerah.

-----

LOMBOK Tengah kian melejit sebagai destinasi wisata unggulan. Tak hanya menawarkan keindahan pantai dan perbukitan, daerah ini juga menyimpan kekayaan budaya yang menjadi magnet wisatawan, kain tenun.

Di Desa Batujai, berdiri sebuah sentra tenun yang bukan sekadar menghasilkan kerajinan tangan, tetapi juga menggerakkan pariwisata daerah.

Meleke, salah satu perajin, menyebut kain tenun Batujai dikenal dengan motif khas yang sarat filosofi lokal, seperti motif subhanale dan motif cecak.

Setiap helai benang yang ditenun dengan alat tradisional gedogan menyimpan kisah perempuan penenun yang mewarisi keahlian ini turun-temurun.

“Proses pembuatannya yang memakan waktu dan ketelitian tinggi menjadikan setiap kain memiliki nilai seni dan budaya yang tak ternilai,” ucapnya.

Sentra tenun di Batujai telah mengubah wajah pariwisata lokal. Wisatawan yang datang ke Lombok Tengah tidak hanya menikmati alam, tetapi juga mendapat pengalaman otentik melihat langsung proses pembuatan kain tenun.

“Mereka bisa berinteraksi dengan para penenun, mencoba menenun sendiri, dan bahkan membeli kain langsung dari pengrajinnya. Sehingga menciptakan sebuah konsep wisata budaya dan edukasi yang unik dan berbeda,” terangnya.

Kain tenun Batujai kini menjadi suvenir yang banyak dicari. Tak hanya dipakai sebagai pakaian, tetapi juga sebagai hiasan dinding, syal, dan produk fashion lainnya.

Belakangan, yang paling diminati adalah kain berwarna cerah, seperti peach dan merah muda.

“Katanya sih warna yang pernah dipakai selebgram Fuji, yang cerah-cerah,” cetus Meleke.

Wanita paro baya ini tak menampik, penjualan kain tenun ikut mendongkrak pendapatan masyarakat desa, memberdayakan perempuan, sekaligus mengurangi ketergantungan ekonomi pada pariwisata massal.

Sinergi pariwisata dan ekonomi kreatif membuktikan budaya bisa menjadi aset berharga bagi pembangunan daerah.

Namun, di balik itu ada tantangan besar. Meleke mengakui, pelestarian kerajinan ini tidak mudah di tengah gempuran produk modern dan globalisasi.

Meski demikian, meningkatnya minat wisatawan pada budaya asli memberi harapan bagi kain tenun Batujai untuk terus berkembang.

“Konsumen kadang salah kaprah beli kain tenun, harga selembar kain tenun itu mahal karena handmade. Kalau dapat yang murah, Rp 100 ribuan dipastikan itu buatan mesin atau pabrikan. Ini yang kadang jadi sandungan kain tenun asli,” bebernya.

Ia berharap promosi melalui media sosial dan kolaborasi dengan pemerintah maupun pelaku pariwisata dapat menjaga agar kain tenun Batujai tetap hidup.

“Sehingga kain tenun tidak hanya berfungsi sebagai sandang, tetapi juga sebagai simbol identitas dan kebanggaan lokal yang terus hidup,” tutup dia. 

Editor : Kimda Farida
#Lombok Tengah #pelaku UMKM #kain tenun #batujai #Asa #naik kelas