Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ricuh Pelantikan Kepala Dusun di Lombok Tengah: Ada Nepotisme atau Sesuai Prosedur?

Lestari Dewi • Rabu, 24 September 2025 | 17:30 WIB
BERJALAN LANCAR: Jajaran Desa Pemepek dan Pemkab Lombok Tengah berfoto bersama usai pelantikan Kepala Dusun Kebun Sirih di kantor Desa Pemepek, Pringgarata, Lombok Tengah, Rabu (24/9).
BERJALAN LANCAR: Jajaran Desa Pemepek dan Pemkab Lombok Tengah berfoto bersama usai pelantikan Kepala Dusun Kebun Sirih di kantor Desa Pemepek, Pringgarata, Lombok Tengah, Rabu (24/9).

LombokPost-Suasana pelantikan Kepala Dusun Kebun Sirih di Desa Pemepek, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, pada Rabu (24/9) pagi berubah menjadi tegang.

Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sekelompok warga yang protes dan berteriak di depan kantor desa.

Mereka menuntut untuk dibiarkan masuk ke dalam, sambil memukul baskom dengan centong besi, menciptakan irama protes yang nyaring.

Aksi penolakan ini bukan tanpa alasan. Menurut Kepala Desa Pemepek Marlan, warga mencium adanya unsur nepotisme dalam pemilihan ini.

Calon yang terpilih dan dilantik, Maulana Ikhtiar, adalah putra dari mantan kepala dusun sebelumnya. Isu ini sontak memicu kemarahan sebagian warga yang merasa proses pemilihan tidak adil.

Namun, pihak desa melalui Kepala Desa Marlan, membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh tahapan pemilihan sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Peraturan Bupati Nomor 102 Tahun 2024.

“Pansel sudah melaksanakan tahapan pemilihan kepala dusun sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP),” ujar Marlan.

Proses seleksi melibatkan tiga calon—Heru, Zaini, dan Maulana Ikhtiar—yang semuanya mengikuti serangkaian tes ketat, mulai dari tes tertulis, wawancara, hingga tes komputer.

Hasil rapat pleno menunjukkan bahwa Maulana Ikhtiar meraih nilai tertinggi, menjadikannya calon yang diusulkan ke tingkat kecamatan dan kabupaten.

Meski protes warga memanas, pelantikan Maulana Ikhtiar tetap dilanjutkan. Marlan menyatakan bahwa pelantikan tersebut sah dan meminta kepala dusun yang baru untuk segera merangkul seluruh warganya.

"Dirangkul semuanya, ini harus sudah tuntas," pesannya.

Marlan juga menduga bahwa kericuhan ini mungkin dipicu oleh oknum-oknum tertentu yang ingin memperkeruh suasana, terutama mengingat akan ada pemilihan kepala desa pada 2026 mendatang. Namun, ia memilih untuk tidak menanggapi dugaan ini lebih lanjut.

Kisah ini menyisakan pertanyaan besar: Apakah protes warga murni karena adanya dugaan nepotisme, ataukah ada kepentingan lain yang bermain di balik layar?

Yang pasti, insiden ini menjadi pengingat bahwa dinamika politik lokal di Lombok Tengah bisa sangat sensitif dan memicu ketegangan.

 

Editor : Siti Aeny Maryam
#Lombok Tengah #nepotisme #sesuai prosedur #Pelantikan #Kepala Dusun #Ricuh