LombokPost-Ajang balap MotoGP Mandalika 2025 sepekan lagi digelar. Pedagang asongan yang biasa berjualan di depan sirkuit akan pindah sementara ke area tenant UMKM yang disiapkan ITDC, tepatnya dekat Masjid Al Hakim.
Risman, salah satu pedagang, menuturkan mereka diberi kesempatan berjualan di depan sirkuit hingga Minggu (28/9). Mulai Senin (29/9) hingga balapan selesai, pedagang dipindahkan ke lokasi baru.
“Untuk kenyamanan pengunjung atau penonton MotoGP, kita pindah di sebelah sana (dekat Masjid Al Hakim),” ucap Risman pada LombokPost, Jumat (26/9).
Ia mengatakan pedagang sudah sepakat pindah dari trotoar depan Sirkuit Mandalika ke lokasi yang disiapkan.
Hal ini sekaligus bentuk dukungan pedagang terhadap penyelenggaraan MotoGP. Dampak ekonomi yang mereka rasakan memang besar.
“Tahun lalu MotoGP, omzet saya bisa mencapai Rp 20 juta. Saya harap tahun ini lebih meningkat lagi,” katanya.
Risman menambahkan, tidak ada persiapan khusus yang dilakukan pedagang. Mereka tetap menjual kaos dan setelan anak bergambar Sirkuit Mandalika, topi pantai, hingga kacamata.
“Kita jual seperti yang biasa saja, tambah stok barang saja,” ujarnya.
Sementara itu di Kota Praya, Dinas Koperasi dan UKM Lombok Tengah telah mengakurasi produk UMKM yang akan mengisi stand MotoGP. Dari 30 stand gratis yang disiapkan, masing-masing diisi maksimal dua pelaku UMKM sehingga total ada 60 pelaku UMKM.
“Sebagian besar adalah pelaku kuliner, 20 persennya hasil kriya,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Loteng Iksan.
Menurutnya, proses akurasi penting dilakukan karena setiap tahun selalu muncul produk dan pelaku UMKM baru. Meski batas akurasi produk sebelumnya dua tahun, tetap ada produk baru yang lahir setiap tahun.
“Yang mengakurasi ini dari Poltekpar, BPOM, Dikes dan sebagainya,” tambahnya.
Untuk lolos akurasi, produk UMKM dinilai dari higienitas, mutu, kualitas, serta kemasan.
Ajang ini menghadirkan puluhan ribu pengunjung dari berbagai negara sehingga persaingan antar pelaku UMKM sangat ketat.
“Kalau mutu hanya pakai bungkusan daun pisang di ajang internasional ya nggak laku, bagaimana pelaku memodifikasi kemasan kuliner agar pengunjung dan penonton tertarik, sebelum lihat isinya, dari kemasan saja orang sudah tertarik,” paparnya.
Editor : Jelo Sangaji