LombokPost-Indonesia, negeri agraris, kini kembali menyorot peran vital sektor pertanian.
Di tengah isu ketahanan pangan yang hangat, Nusa Tenggara Barat (NTB) tampil sebagai garis depan, dan di balik keberhasilan ini, berdiri komitmen kuat dari Kepolisian Daerah NTB.
Bukan hanya mengurus keamanan, Polda NTB di bawah kepemimpinan Irjen Pol. Hadi Gunawan kini mengambil peran aktif sebagai "pengawal panen."
Gerakan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah aksi nyata dan terstruktur yang menjamin bahwa hasil bumi rakyat bisa sampai ke meja makan nasional.
Mengapa Jagung? Jagung adalah komoditas strategis.
Di NTB, daerah seperti Sumbawa dan Lombok Barat telah lama dikenal sebagai sentra produksi jagung.
Namun, besarnya potensi ini sering kali terkendala oleh berbagai masalah, mulai dari akses modal, teknik tanam, hingga—yang paling krusial—gangguan saat panen dan penjualan.
Kapolda NTB Irjen Pol Hadi Gunawan melihat ini sebagai celah yang harus diisi.
Dalam kegiatan panen raya yang disorot, Kapolda menegaskan bahwa Polri berperan sebagai pelayan masyarakat yang juga akan membantu terkait ketahanan pangan, yang merupakan program prioritas pemerintah.
Polri akan melakukan pendampingan kepada masyarakat, baik itu pada saat pembukaan lahan, saat penanaman, pemberian pupuk, pembagian bibit, sampai panen.
"Kita akan lakukan pemantauan dan pembimbingan agar hasilnya maksimal, tidak ada diganggu oleh orang-orang lain," kata Kapolda di Dusun Sapit, Desa Selebung, Batukliang, Lombok Tengah, Sabtu (27/9).
Pernyataan ini menegaskan komitmen Polri, mengamankan proses produksi dari hulu ke hilir.
Ini adalah respons langsung terhadap masalah klasik petani, di mana gangguan atau ulah oknum tertentu sering kali menyebabkan pendapatan masyarakat berkurang.
Dengan pengawalan ketat dari jajaran kepolisian, petani kini bisa merasa tenang saat masa panen tiba.
Kegiatan pertanian tidak akan berkelanjutan tanpa jaminan pasar. Di sinilah intervensi strategis kedua Polda NTB dan Pemerintah Pusat terlihat jelas, memastikan hasil panen diserap oleh Bulog.
Panen perdana di Lombok Tengah ini menunjukkan hasil mengagumkan, seluas 10 hektar lahan menghasilkan sekitar 50 ton jagung. Seluruh hasil ini langsung dibawa ke Bulog.
Mekanisme penyerapan ini menjamin harga yang stabil bagi petani sesuai dengan ketetapan negara, menghilangkan perantara yang sering menekan harga jual.
Irjen Hadi Gunawan juga menyoroti upaya Bulog untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan, termasuk menyewa gudang swasta, demi memaksimalkan penyerapan.
Ini menunjukkan bahwa sinergi antara Polri, Bulog, dan petani adalah kunci untuk mengatasi tantangan klasik swasembada dimana produksi ada, tapi serapan terhambat.
Inisiatif Polda NTB ini jauh melampaui tugas kepolisian konvensional. Ini adalah model kepemimpinan institusi keamanan yang relevan dengan isu sosio-ekonomi rakyat.
Dengan melindungi proses pertanian, Polri tidak hanya menjaga keamanan wilayah, tetapi secara langsung mendorong kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Di tengah gema panen raya jagung di NTB, pesan yang disampaikan Kapolda sangat jelas "Ketahanan pangan adalah ketahanan bangsa".
Dan untuk itu, Polri siap menjadi pagar pelindung bagi setiap butir benih dan setiap ton hasil panen, memastikan bumi NTB benar-benar menjadi lumbung harapan.
Editor : Kimda Farida