Tikungan 16 Sirkuit Mandalika selalu menyimpan cerita. Tahun lalu Jorge Martin tergelincir di sana, memicu tanya soal misteri di lintasan. Kini, titik rawan itu justru menjadi ruang latihan tim medis yang ditempa untuk berpacu melawan waktu, demi menyelamatkan nyawa pembalap di ajang MotoGP Mandalika 2025.
-----INGAT jatuhnya El Diablo Jorge Martin tahun lalu di tikungan itu? Ia bahkan sempat mencurigai ada “sesuatu yang aneh”, anomali kecil yang cukup untuk merenggut kendali di kecepatan tertinggi.
Kejadian itu menjadi salah satu alasan RSUD Provinsi NTB bersama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) menggelar pelatihan intensif bagi tim medis yang akan bertugas di ajang MotoGP Mandalika 2025.
Baca Juga: GREEN PARADISE, Lombok Bukan Lagi Sekadar Pantai, Tapi Masa Depan Pariwisata Hijau Indonesia
Menjelang balapan akhir pekan ini, persiapan terus dimatangkan di Sirkuit Mandalika. Tidak hanya lintasan, paddock, dan fasilitas penunjang, aspek kesehatan dan keselamatan juga menjadi prioritas.
Pelatihan berlangsung dua hari dengan lokasi utama di Medical Center dalam area sirkuit serta di Tikungan 16. Tikungan ini dikenal krusial dan rawan insiden.
Di titik tersebut, tenaga medis dilatih merespons berbagai skenario darurat, mulai dari evakuasi cepat pembalap yang mengalami kecelakaan hingga koordinasi dengan pusat medis untuk penanganan lanjutan.
Baca Juga: Sentuhan Lokal Swiss-Belcourt Lombok: Promosi UMKM Menyambut Kru dan Pembalap MotoGP Mandalika
Chief Medical Officer RSUD Provinsi NTB dr Eko Widya Nugroho mengatakan, pelatihan ini bertujuan meningkatkan kekompakan, ketelitian, dan kecepatan tim medis menghadapi situasi darurat. Dalam dunia balap, setiap detik sangat menentukan. Keterlambatan sekecil apa pun bisa berakibat fatal bagi pembalap maupun tim medis yang bekerja di tengah race.
“Karena itu, pelatihan ini memastikan seluruh prosedur dilakukan cepat, tepat, dan aman,” jelas dr Eko.
Selain praktik langsung di lintasan, tenaga medis juga mendapat pelatihan tentang prosedur komunikasi dengan race control serta koordinasi antarpos medis. Hal ini penting agar alur penanganan darurat berjalan efektif.
Mulai dari titik insiden hingga pembalap dibawa ke Medical Center untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dengan sistem komunikasi terintegrasi, setiap anggota tim dapat bergerak dalam satu komando.
Direktur Utama MGPA Priandhi Satria menegaskan, kesiapan tim medis merupakan bagian vital dari standar internasional penyelenggaraan MotoGP. “Kami tidak hanya menyiapkan lintasan balap dan fasilitas pendukung, tetapi juga aspek keselamatan dan kesehatan para pembalap,” katanya.
Pelatihan medis ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan teknis menjelang gelaran akbar MotoGP Mandalika. Dengan tenaga medis terlatih, fasilitas kesehatan siap, serta koordinasi matang,
“MotoGP Mandalika 2025 diharapkan dapat berlangsung aman, meriah, dan meninggalkan kesan positif bagi pembalap, penonton, serta citra Indonesia di kancah dunia,” tutupnya.
T16 mungkin tetap menyimpan misteri dan bahaya. Tetapi kini, tikungan itu dijaga tembok manusia terlatih yang siap bertarung melawan waktu demi menyelamatkan setiap pembalap.