Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dibalik Makna Piala Kemenangan MotoGP Mandalika 2025, Ada Perpaduan Budaya, Keindahan Sasak dan Semangat Indonesia di Kancah Dunia

Lestari Dewi • Selasa, 7 Oktober 2025 | 10:52 WIB
Menpora Erick Thohir menyerahkan piala kemenangan kepada Fermin Aldeguer di podium utama usai balapan MotoGP Mandalika 2025 di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah, Minggu (5/10).
Menpora Erick Thohir menyerahkan piala kemenangan kepada Fermin Aldeguer di podium utama usai balapan MotoGP Mandalika 2025 di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah, Minggu (5/10).

Trofi untuk para juara MotoGP Mandalika 2025 mencuri perhatian. Di balik trofi terdapat karya seni yang menyatukan tradisi, budaya dan semangat modernitas Indonesia. 

-----

DI atas podium utama Fermin Aldeguer menerima piala kemenangan MotoGP Mandalika 2025 yang diberikan langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir di Sirkuit Internasional Mandalika pada Minggu (5/10) lalu.

Siapa sangka dibalik piala kemenangan yang diberikan itu lebih dari sekadar simbol kemenangan. Itu adalah karya seni yang menyatukan tradisi, budaya, dan semangat modernitas Indonesia. 

Di balik kemegahan trofi itu terdapat kisah panjang tentang Sweda, rumah pengerajin perak asal Yogyakarta, yang menjadi pembuat resmi piala untuk para juara dunia di Mandalika.

Sweda dikenal karena kemampuannya memadukan kerajinan tradisional perak dengan sentuhan desain modern. 

Kata “Sweda” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “jari-jari tangan” yang menggambarkan filosofi bahwa setiap karya dibuat dengan sentuhan tangan dan jiwa.

Para pengrajin Sweda tetap mempertahankan metode kerja tradisional, menggunakan alat-alat sederhana untuk proses memotong, mengukir, menyolder, mengamplas, dan memoles setiap detail karya.

Sejak berdiri pada 2014, Sweda berkomitmen untuk melestarikan tradisi perak Yogyakarta yang telah berlangsung sejak abad ke-16.

Di tengah arus modernisasi dan menurunnya minat generasi muda terhadap kriya tradisional, Sweda memilih untuk bertahan pada akar budaya sambil membuka diri terhadap inovasi dan kolaborasi dengan dunia seni dan desain global.

“Kami percaya setiap karya harus memiliki jiwa dan cerita. Tradisi bukan sesuatu yang harus ditinggalkan, melainkan diwariskan dalam bentuk baru yang bisa dibanggakan di masa kini,” kata Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria, Senin (6/10).

Melalui tangan para pengrajin Sweda, piala MotoGP Mandalika 2025 bukan hanya menjadi simbol kemenangan di lintasan, tetapi juga simbol kejayaan seni kriya Indonesia di panggung dunia. 

Piala MotoGP Mandalika 2025 pun dirancang dengan filosofi kuat, merayakan budaya Nusantara sekaligus menghormati keunggulan para pembalap dunia. Desainnya mencerminkan harmoni antara tradisi lokal Lombok dengan energi modern ajang MotoGP.

“Konsep utama piala ini berakar pada motif dan pola khas Suku Sasak, masyarakat asli Pulau Lombok, yang dikenal dengan kekayaan nilai seni dan simbol kehidupan,” katanya.

Ada beberapa elemen desain penting yang membentuk trofi piala MotoGP. Sweda menuturkan, pertama motif “T Pattern” yang menggabungkan pola tradisional Suku Sasak dengan bentuk lintasan Sirkuit Mandalika.

Kemudian, Motif “Subahnale”, sebuah corak khas Lombok yang sarat makna spiritual, menggambarkan kekuatan dan keindahan tangan manusia dalam mencipta.

Tidak itu saja, batu alam Lombok yang digunakan pada bagian dasar trofi juga sebagai representasi kekayaan alam pulau ini.

Selanjutnya, bentuk melingkar (Circular Form) yang melambangkan siklus kehidupan, kesinambungan, dan perjalanan manusia menuju kemenangan. 

Hingga inspirasi bentuk Gendang Beleq, alat musik tradisional Lombok, yang menjadi simbol semangat dan kebanggaan masyarakat lokal.

“Trofi ini menjadi perwujudan dari perayaan budaya dan prestasi, sekaligus jembatan antara identitas Indonesia dan semangat kompetisi global MotoGP,” terangnya.

Pemilihan Sweda sebagai pembuat piala MotoGP Mandalika bukan tanpa alasan. Kolaborasi ini lahir dari visi yang sama antara Pertamina, InJourney, MGPA dan Dorna Sports untuk menghadirkan piala yang bukan hanya bernilai estetika, tetapi juga mencerminkan identitas Indonesia yang kuat di mata dunia.

Priandhi Satria menuturkan, Sweda dinilai mampu mewakili filosofi tersebut. Adapun beberapa alasannya, Sweda mampu mengusung nilai autentik Indonesia melalui pendekatan kriya tradisional. Mampu menjaga kualitas dan presisi dalam setiap karya, setara dengan standar internasional MotoGP.

“Mampu menghadirkan makna simbolis yang dalam, memadukan budaya Sasak, keindahan Mandalika, dan semangat global kompetisi,” kata Andhi sapaan akrabnya.

Secara teknis, piala dibuat dari aluminium dan resin berkualitas tinggi, yang kemudian dilapisi dengan detail hasil ukiran tangan khas Sweda.

Kombinasi dua material ini merepresentasikan perpaduan antara kekuatan dan fleksibilitas, dua elemen yang juga menjadi kunci kesuksesan para pembalap MotoGP.

Permukaan piala menampilkan refleksi motif Sirkuit Mandalika, menggambarkan kecepatan dan dinamika. Sementara detail ukiran tradisional memberikan sentuhan lembut dan artistik, menjadi pengingat bahwa teknologi dan budaya dapat bersatu dalam harmoni.

“Penyerahan piala yang dilakukan langsung oleh Menpora Erick Thohir kepada Fermin Aldeguer di podium utama, tidak hanya menjadi lambang supremasi olahraga, tetapi juga manifestasi kebanggaan nasional,” ungkap Andhi.

Piala ini memiliki nilai lebih dari sekadar trofi kemenangan. Piala ini melambangkan semangat Indonesia, semangat untuk bekerja keras, menghargai tradisi, dan membawa nama bangsa ke tingkat dunia.

Pembuatannya oleh pengrajin dalam negeri menunjukkan bahwa karya anak bangsa mampu berdiri sejajar dengan produk global.

Dengan demikian, piala MotoGP Mandalika 2025 bukan hanya simbol juara, tetapi juga simbol persatuan antara olahraga, budaya, dan kreativitas Indonesia. Piala ini membawa makna yang dalam dari setiap elemen desainnya. 

“Motif Sasak dan pola Sirkuit Mandalika menggambarkan keterikatan antara masyarakat lokal dan dunia balap internasional. Batu alam Lombok di dasarnya menegaskan akar bumi Nusantara sebagai fondasi dari setiap pencapaian besar,” ungkap Andhi.

Bentuk melingkar merefleksikan siklus kehidupan dan perjuangan tanpa akhir, sebagaimana perjalanan pembalap yang terus mengejar kesempurnaan setiap lap.

Dan di atas semuanya, piala ini adalah perayaan kehidupan dan kemenangan, sebagaimana semangat masyarakat Lombok yang selalu menyambut setiap pencapaian dengan sukacita dan rasa syukur.

Piala MotoGP Mandalika 2025 bukan sekadar penghargaan, melainkan karya seni bernilai tinggi yang merangkum kekayaan budaya, ketekunan tradisi, dan semangat kemajuan bangsa.

Dibuat oleh Sweda, pengrajin perak tradisional dari Yogyakarta, piala ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara warisan budaya dan inovasi modern.

Melalui piala yang sarat makna ini, Indonesia kembali menegaskan diri bukan hanya sebagai tuan rumah MotoGP yang spektakuler, tetapi juga sebagai bangsa yang kaya seni, budaya, dan identitas, yang mampu menyampaikan pesan universal: bahwa kemenangan sejati adalah hasil dari kerja keras, warisan, dan kebanggaan akan akar budaya sendiri. 

Editor : Siti Aeny Maryam
#juara #karya seni #MGPA #yogyakarta #pengrajin #makna #trofi #Priandhi Satria #motogp mandalika 2025